|
Komoditas
|
Cadangan Terbukti (2025)
|
Produksi Tahunan (2025)
|
Sisa Waktu (tanpa penemuan baru)
|
|---|---|---|---|
|
Minyak Bumi
|
2,29 miliar barel
|
~220 juta barel/tahun
|
10 tahun (habis ~2035)
|
|
Gas Alam
|
33,8 TCF
|
~2,5 TCF/tahun
|
13 tahun (habis ~2038)
|
|
Batubara
|
32 miliar ton
|
750 juta ton/tahun
|
43 tahun (habis ~2068)
|
|
Nikel (logam)
|
62 juta ton
|
1,9 juta ton/tahun
|
33 tahun (habis ~2058)
|
Artinya, di tahun 2045—tepat saat kita merayakan 100 tahun kemerdekaan—minyak dan gas alam yang menyumbang 65 % penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi akan benar-benar kering.
- Skenario Terburuk (Business as Usual)
Tahun 2050: Impor minyak >90 %, impor gas alam >70 %, tagihan energi >Rp 4.000 triliun per tahun (lebih besar dari APBN 2025). Nilai tukar rupiah bisa tembus Rp 30.000 per dolar karena defisit neraca migas. - Skenario Realistis (RUEN & Net Zero 2060)
Listrik aman karena PLTS + PLTB + geotermal, tapi industri berat (smelter, pupuk, petrokimia) tetap kelaparan gas. Harga pupuk dan semen melonjak 300–500 %, inflasi struktural 12–15 % per tahun. - Skenario Optimistis (Ada Terobosan Besar)
Hanya mungkin kalau dalam 5 tahun ke depan kita berhasil:- Menemukan cadangan migas baru minimal 5 miliar barel oil equivalent (setara Cepu + Masela)
- Membangun 100 GW PLTN + 150 GW EBT sebelum 2040
- Menguasai teknologi carbon capture untuk memperpanjang umur batubara 20 tahun lagi
Sayangnya, hingga November 2025, eksplorasi migas baru hanya 3 sumur sukses dari 28 sumur yang dibor. Investasi hulu migas turun 40 % sejak 2022.
Tinggal 25–30 tahun sebelum bom waktu energi meledak. Ini bukan lagi urusan Kementerian ESDM saja, tapi urusan hidup-mati bangsa. Kalau negara masih sibuk debat pro-kontra politik atau masalah masalah sepele, maka tahun 2050 generasi selanjutnya akan membaca buku sejarah“Bagaimana Indonesia yang dulunya raja energi Asia Tenggara menjadi negara pengimpor energi termahal di dunia”.
