SURABAYA (SurabayaPostNews) – Suasana berbeda terasa di SMP YPPI 1 Surabaya, Surabaya. Puluhan mahasiswa dan dosen asing tampak larut dalam aktivitas membatik, melukis bakar, hingga mengolah limbah menjadi karya seni bernilai. Kegiatan ini menjadi bagian dari pertukaran budaya yang mempertemukan pembelajaran budaya lokal dengan kepedulian lingkungan.
Sebanyak 46 mahasiswa dan dosen asing dari 29 universitas di 10 negara mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Mereka belajar langsung budaya Indonesia, mulai dari membatik menggunakan canting hingga membuat kerajinan seni lukis bakar atau pyrography dengan media papan kayu.
Tak sekadar praktik seni, para peserta juga diajak mengenal inovasi pengelolaan limbah batik gedi. Limbah sisa lilin batik diolah kembali menjadi lilin aromaterapi yang ramah lingkungan, sekaligus menjadi media edukasi untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.
Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran budaya sekaligus implementasi pembangunan berkelanjutan. Lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang hidup, tempat budaya, kreativitas, dan kepedulian lingkungan saling terhubung.
Salah satu peserta, Nica, mahasiswi asal Kanada, mengaku antusias mengikuti kegiatan kreatif tersebut meski prosesnya tidak mudah.
“Asyik di sini, belajar banyak budaya. Saya membuat salah satu kerajinan, kami mengukir gambar bunga dengan api di telenan kecil. Ini tidak mudah. Saya juga punya alat pembakar kayu di rumah, tapi tidak terpikir membuat kerajinan semenarik ini,” ujar Nica.
Kepala SMP YPPI 1 Surabaya Titris Hariyanti Utami menjelaskan, kurikulum di sekolahnya memang menekankan kepekaan siswa terhadap sisa produksi dan dampaknya bagi lingkungan.
“Kami tidak membuang limbah begitu saja. Sisa lilin dari proses membatik diolah kembali menjadi lilin aromaterapi. Bahkan air bekas pencucian kain kami netralisir pH-nya secara alami sebelum dialirkan ke saluran pembuangan,” kata Titris.
Melalui akulturasi dan pembelajaran budaya lokal ini, sekolah berharap siswa dan peserta internasional dapat saling mengenal budaya masing-masing. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menginspirasi masyarakat luas untuk merawat budaya sekaligus menjaga lingkungan secara berkelanjutan.