SURABAYA (SurabayaPostNews) – Upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba dinilai tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan metode rehabilitasi yang efektif dan humanis bagi para pecandu. Hal itu disampaikan oleh pegiat pemerhati narkoba Irjen.Pol (Purn) Puji Sarwono saat berkunjung di Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika (LRPPN) Bhayangkara Indonesia Surabaya, Minggu Malam (17/06/2026).
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa perjuangan membantu masyarakat melawan penyalahgunaan narkoba tidak pernah berhenti, meskipun dirinya telah purnatugas.
“Saya dan Prof Siswanto punya semangat yang sama, tidak ada istilah berhenti membantu masyarakat dalam melawan penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Ia mengaku tertarik berkunjung karena melihat perjuangan Prof Siswanto yang telah lama berkecimpung dalam penanganan rehabilitasi pecandu narkoba. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah terapi bernama Hipnoterapi , yang menggunakan pendekatan hipnoterapi untuk membantu pecandu lepas dari ketergantungan narkoba.
Menurutnya, para penyalahguna narkoba umumnya sulit kembali hidup normal karena telah mengalami ketergantungan berat akibat penggunaan berbagai jenis zat terlarang dan campuran obat-obatan lainnya.
“Mereka biasanya sulit kembali menjadi bukan pecandu. Setelah berhenti, sering kali kambuh lagi,” katanya.
Ia menjelaskan, metode hipnoterapi yang diterapkan bertujuan membangun kesadaran pasien agar tidak lagi memiliki keinginan mengonsumsi narkoba. Bahkan, ada pasien yang mengaku merasa takut untuk kembali menggunakan barang haram tersebut setelah menjalani terapi.

“Metode ini sangat bagus karena membuat mereka sadar sendiri untuk tidak menggunakan narkoba lagi,” ungkapnya.
Meski metode tersebut belum sepenuhnya diakui secara medis, ia menilai pendekatan yang dilakukan tetap positif selama tidak melanggar hukum dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya bagi pasien.
Ia juga membandingkan dengan sejumlah metode rehabilitasi lain yang dinilai berisiko, seperti terapi dengan cara ekstrem yang dikhawatirkan dapat memicu dampak negatif bagi pasien.
“Kalau hypnoterapi ini menurut saya sangat bagus dan lebih aman,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ia berharap masyarakat semakin memahami bahaya penyalahgunaan narkoba serta pentingnya rehabilitasi yang tepat bagi korban penyalahgunaan zat adiktif.
“Saya ingin negara kita aman dan generasi muda tidak menyalahgunakan narkoba,” pungkasnya.
Sementara itu, Prof. Siswanto kepala LRPPN Bhayangkara Indonesia Surabaya mengatakan, kunjungan tersebut merupakan sebuah kehormatan karena tidak semua lembaga rehabilitasi mendapatkan perhatian langsung dari tokoh nasional yang selama ini aktif dalam pemberantasan narkoba.
“Beliau sejak masih menjabat di BNN memang sudah konsen terhadap relawan dan lembaga rehabilitasi. Bahkan sampai pensiun pun masih peduli membantu teman-teman relawan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lembaga rehabilitasi yang dipimpinnya selama ini berjalan secara mandiri tanpa bantuan khusus dari negara. Karena itu, perhatian dan dukungan yang diberikan dinilai menjadi motivasi besar bagi para relawan dan tenaga rehabilitasi.
Menurutnya, dalam kunjungan tersebut mantan pejabat BNN itu juga melihat langsung fasilitas rehabilitasi, metode penanganan pasien, hingga prosedur yang diterapkan dalam proses pemulihan.
“Beliau menyampaikan yang penting metode yang dilakukan tidak menyalahi prosedur hukum maupun kesehatan,” katanya.
Ia melanjutkan, menerapkan metode hipnoterapi untuk membantu mengubah pola pikir pecandu terhadap narkoba. Barang yang sebelumnya dianggap menyenangkan diubah menjadi sesuatu yang menimbulkan rasa takut atau phobia.
“Kami mengubah mindset mereka. Narkoba yang awalnya disukai kami ubah menjadi sesuatu yang menakutkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, lembaga rehabilitasi tersebut juga menegaskan tidak ada praktik kekerasan maupun pengurungan seperti di lembaga pemasyarakatan. Seluruh proses rehabilitasi dilakukan secara persuasif tanpa unsur pemaksaan.
Selain itu, tenaga konselor dan asesor di tempat tersebut disebut telah memiliki sertifikasi profesi sesuai standar yang berlaku.
Meski belum memiliki uji klinis resmi terkait tingkat keberhasilan metode hypnoterapi, pihaknya mengklaim sejumlah pasien yang telah menjalani terapi tidak kembali menggunakan narkoba.
Namun demikian, faktor lingkungan tetap menjadi tantangan terbesar dalam proses pemulihan pecandu.
“Pemicu terbesar itu lingkungan. Kalau kembali ke lingkungan lama dan dipaksa teman-temannya, kemungkinan kambuh tetap ada,” pungkasnya.