Pengamat Teknologi Supangat: Keterbatasan Akses Chip Dorong Inovasi dan Kemandirian Teknologi

Dalam dunia rekayasa, ketergantungan pada satu teknologi utama merupakan titik lemah sistem. Ketika akses terhadap teknologi itu dibatasi, maka fleksibilitas dan inovasi ikut terhambat

SURABAYA (SurabayaPostNews)- Pengamat Teknologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya , Supangat, menyoroti isu dunia teknologi global terkait pengembangan chip canggih secara mandiri yang tengah dilakukan China,di tengah keterbatasan akses terhadap teknologi litografi mutakhir. Supangat menilai langkah ini dinilai justru membuka ruang inovasi baru yang lebih berkelanjutan.

Ketergantungan industri global pada satu jenis teknologi chip berisiko menghambat perkembangan inovasi. Menurut dia, kondisi tersebut mendorong negara dan pelaku teknologi untuk mencari pendekatan alternatif.

“Dalam dunia rekayasa, ketergantungan pada satu teknologi utama merupakan titik lemah sistem. Ketika akses terhadap teknologi itu dibatasi, maka fleksibilitas dan inovasi ikut terhambat,” ujar Supangat, dalam keterangannya, Kamis (2/1/2026).

Supangat yang juga merupakan Wakil Rektor II Untag Surabaya menyebut, chip semikonduktor merupakan komponen inti hampir seluruh teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, pusat data, hingga kecerdasan buatan. Untuk memproduksi chip tercanggih, selama ini industri sangat bergantung pada mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) yang presisi dan kompleks.

“Mesin EUV bekerja dalam kondisi nyaris sempurna, tanpa getaran, suhu sangat stabil, dan presisi ekstrem. Karena itulah, teknologi ini bukan hanya mahal, tetapi juga sangat sulit dibuat dan dikuasai,” Sambungnya.

Supangat menilai, keterbatasan akses terhadap mesin tersebut justru memaksa para insinyur untuk kembali pada pemahaman dasar teknologi. Menurutnya, membangun mesin chip dari nol bukan sekadar persoalan merakit perangkat, melainkan memahami fisika cahaya, material, dan sistem kontrol secara menyeluruh.

“Ketika insinyur dipaksa membangun sendiri, mereka tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mulai memahami sistem intinya. Dari proses inilah inovasi yang lebih mandiri dan berkelanjutan bisa lahir,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pengembangan teknologi mandiri memang tidak selalu langsung menghasilkan produk siap pakai. Namun, pengalaman bereksperimen dan menghadapi kegagalan teknis merupakan bagian penting dalam membangun kapasitas inovasi jangka panjang.

Dampak pendekatan ini juga dirasakan dalam pengembangan kecerdasan buatan. Supangat menyebut, keterbatasan chip berteknologi paling mutakhir mendorong pengembang AI untuk mencari solusi lain.

“Pengembang tidak berhenti hanya karena satu jalur teknologi tertutup. Mereka mulai merancang chip yang lebih modular, mengombinasikan berbagai jenis prosesor, dan mengoptimalkan perangkat lunak agar lebih efisien,” kata Supangat.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuka peluang agar AI tidak hanya bergantung pada chip paling kecil dan mahal. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat membuat teknologi kecerdasan buatan lebih adaptif dan inklusif.

Dalam konteks global, Supangat menegaskan bahwa kekuatan teknologi suatu negara tidak semata ditentukan oleh dominasi politik atau militer. Penguasaan teknologi inti menjadi faktor pembeda utama.

“Negara adidaya dalam teknologi adalah negara yang mampu merancang mesin, memahami material, mengendalikan sistem presisi, dan membangun ekosistem teknologi secara menyeluruh. Itu yang menentukan arah inovasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam penguasaan teknologi. Menurut Supangat, pembelajaran teknologi tidak cukup hanya berfokus pada penggunaan alat tercanggih.

“Yang jauh lebih penting adalah memahami prinsip dasar dan kemampuan merancang solusi. Teknologi akan terus berubah, tetapi pemahaman sistem akan selalu relevan,” kata dia.

Supangat menutup dengan menegaskan bahwa sejarah menunjukkan inovasi kerap lahir dari keterbatasan. “Dalam dunia rekayasa, keterbatasan bukan akhir dari inovasi, melainkan awal dari lompatan berikutnya,”tegasnya.