Cerai Di Surabaya Naik, Perasaan dan Dompet Jadi Tersangka Utama

SURABAYA – Pengadilan Agama (PA) Surabaya tampaknya makin sibuk sepanjang 2025, tercatat 6.080 permohonan cerai masuk, naik cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang “hanya” 5.644 perkara.

Bisa dibilang, antrean sidang perceraian ikut merasakan inflasi.

Humas PA Surabaya, Akramuddin, mengungkapkan bahwa dari ribuan perkara tersebut, cerai gugat yang diajukan pihak perempuan masih jadi juara bertahan.

Totalnya mencapai 4.469 gugatan, sementara cerai talak yang diajukan laki-laki berada di angka 1.611 perkara.

“Fenomena ini bukan cuma terjadi di Surabaya. Hampir di seluruh pengadilan agama di Indonesia, cerai gugat memang selalu lebih tinggi,” ujar Akramuddin di Surabaya, Selasa.

Menurutnya, ada banyak alasan mengapa perempuan lebih sering ‘angkat map’ ke pengadilan. Mulai dari faktor psikologis hingga kondisi sosial. Salah satunya, soal perasaan.

“Mungkin karena faktor perasaan dan psikologis. Kalau ada masalah sedikit, sebagian perempuan langsung memilih jalur resmi ke pengadilan,” katanya, sambil tersirat menyiratkan bahwa drama rumah tangga tak selalu butuh episode panjang.

Selain itu, dukungan keluarga, terutama orang tua, juga kadang ikut mendorong keputusan cerai. Terutama jika sang anak perempuan dianggap sudah terlalu lama ‘menderita’.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kedewasaan psikologis dan usia pernikahan. Banyak pasangan menikah saat mental masih setengah matang—ibarat mi instan yang belum sepenuhnya lunak, tapi sudah diangkat dari kompor.

Namun demikian, Akramuddin menegaskan bahwa urusan dapur tetap jadi biang kerok utama. Hampir semua perkara perceraian, ujung-ujungnya, berawal dari masalah ekonomi.

Konflik biasanya muncul ketika suami tidak memiliki penghasilan yang cukup, atau lebih parah lagi, enggan bekerja.

Dari situ, pertengkaran berkembang, emosi menumpuk, dan akhirnya palu hakim yang berbunyi.

Soal usia pasangan yang paling sering bercerai, rentang 30 hingga 40 tahun masih mendominasi. Padahal usia ini pada dasarnya masuk kategori produktif—baik secara tenaga maupun emosi.

Sementara pasangan berusia di atas 40 tahun cenderung lebih jarang bercerai. Alasannya sederhana: sudah terlalu capek untuk drama baru dan mulai berpikir soal masa depan—atau mungkin karena sudah hafal pola ributnya.@ *