TULUNGAGUNG (SurabayaPostNews) – SMKN 1 Tulungagung, Jawa Timur, membuktikan pembelajaran vokasi pertanian dapat berjalan beriringan dengan teknologi dan kewirausahaan. Sekolah tersebut berhasil memanen sekitar 3,5 ton melon dalam sekali panen melalui budidaya berbasis hidroponik dan sistem pemantauan digital.
Keberhasilan itu mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai saat menghadiri SEMESTA Harvest Day 2026, Minggu (13/9/2026).
Menurut Aries, praktik pembelajaran di SMK seharusnya tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi serta memberi pengalaman kepada siswa untuk memahami dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Ini adalah proses yang sangat luar biasa yang bisa dicontoh oleh SMK-SMK kita yang punya jurusan pertanian,” kata Aries.
SMKN 1 Tulungagung mengembangkan dua model budidaya melon. Melon Inthanon ditanam di greenhouse seluas 949 meter persegi dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique) yang terintegrasi dengan AutoGrow System.
Greenhouse tersebut memiliki kapasitas sekitar 2.350 tanaman dan menghasilkan sekitar 3,5 ton melon pada panen perdana. Sementara itu, Melon Diva 15 dibudidayakan di greenhouse seluas 160 meter persegi menggunakan sistem polibag dengan media tanah, cocopeat, dan kotoran hewan yang telah dihaluskan. Dengan demikian, total area greenhouse untuk budidaya melon mencapai sekitar 1.109 meter persegi.
Teknologi AutoGrow memungkinkan siswa memantau kondisi tanaman melalui telepon seluler. Mereka belajar mengecek kelembapan, memantau pertumbuhan tanaman, hingga menentukan waktu panen.
Kepala SMKN 1 Tulungagung Ning Fadlillah mengatakan, budidaya melon tersebut dikembangkan melalui program SIKAP dan diperkuat kemitraan dengan dunia industri, salah satunya Vertindo Semarang.
“Anak-anak tidak hanya menanam. Mereka juga mengecek melalui handphone dengan sistem AutoGrow, memantau kelembapan dan memastikan tingkat kemanisan melon,” ujar Ning.
Melon dapat dipanen sekitar 65-70 hari setelah tanam. Sebelum dipasarkan, hasil panen terlebih dahulu melalui proses pengecekan kualitas sesuai standar yang disepakati dengan mitra.
Selain belajar produksi, siswa juga dilibatkan dalam proses pemasaran. Pada tahap awal, hasil panen dipasarkan melalui mitra industri. Namun, sekolah mulai mendorong siswa memasarkan produk secara mandiri dengan tetap mengikuti standar harga dan kualitas.
Menurut Ning, kemitraan dengan industri juga memberi kesempatan siswa memperoleh pengalaman langsung. Teknisi dari mitra memberikan pendampingan, sementara siswa mengikuti praktik kerja lapangan di Vertindo.
“Model pembelajaran tersebut membuat siswa tidak hanya berperan sebagai tenaga teknis. Mereka juga belajar merancang, mengelola, mengembangkan, hingga memasarkan produk pertanian,” ucapnya.
Selain melon, SMKN 1 Tulungagung mengembangkan berbagai komoditas melalui kelas peminatan dan kewirausahaan, seperti ayam petelur, ayam kampung, sapi, domba, serta ayam broiler dengan sistem closed house. Khusus budidaya melon, terdapat 32 siswa dari Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH).
Aries menilai pengembangan tersebut menunjukkan sekolah vokasi pertanian dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang produktif sekaligus adaptif terhadap teknologi.
“Saya sanjung mereka karena mereka sudah siap betul menjadi petani kreatif dan petani yang berwirausaha,” kata Aries.
Melalui pengembangan tersebut, SMKN 1 Tulungagung menargetkan sekolah tidak sekadar menjadi tempat belajar teori dan praktik, tetapi menjadi “laboratorium hidup” yang membekali siswa dengan keterampilan pertanian modern dan kemampuan kewirausahaan.