Mahasiswa Unusa Ubah Limbah Kulit Buah Jadi SMARTFOAM

Melalui SMARTFOAM, kami ingin menghadirkan solusi pembersih sepatu yang praktis tanpa penggunaan air sekaligus memanfaatkan limbah kulit buah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna

SURABAYA (SurabayaPostNews) – Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengembangkan SMARTFOAM, pembersih sepatu berbentuk foam yang memanfaatkan eco-enzyme dari limbah kulit buah.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dengan mengusung konsep pemanfaatan limbah organik dan produk perawatan sepatu yang praktis.

Kelima mahasiswa terdiri dari Baroatus Silmi, Dhurrotun Nafisah, Naily Zakiyatul K, Sania ‘Ainiyati, dan Ahda Dini Salsabila dari Program Studi Manajemen. Tim tersebut dibimbing Dr. Rudi Umar Susanto, S.Pd., M.Pd.
Manfaatkan limbah kulit buah

SMARTFOAM dibuat menggunakan eco-enzyme yang berasal dari pengolahan limbah kulit buah. Bahan tersebut kemudian diformulasikan dengan methyl ester sulfonate, air, NaCl, dan essential oil.

Produk dikemas dalam bentuk foam sehingga dapat langsung diaplikasikan ke permukaan sepatu tanpa perlu menggunakan air saat proses pembersihan.

Ketua Tim SMARTFOAM, Baroatus Silmi, mengatakan ide tersebut berangkat dari kebutuhan terhadap produk perawatan sepatu yang praktis sekaligus memiliki nilai lingkungan.

“Melalui SMARTFOAM, kami ingin menghadirkan solusi pembersih sepatu yang praktis tanpa penggunaan air sekaligus memanfaatkan limbah kulit buah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna,” ujar Baroatus.

Menurut dia, pemanfaatan limbah kulit buah juga menjadi bagian dari penerapan prinsip zero waste, khususnya dengan mengurangi limbah organik dan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.

SMARTFOAM menyasar sejumlah kelompok pengguna, seperti pelajar, mahasiswa, pekerja, komunitas pencinta sepatu, hingga masyarakat perkotaan.

Diuji di laboratorium

Pengembangan SMARTFOAM tidak hanya dilakukan melalui pembuatan produk. Tim mahasiswa juga melakukan pengujian laboratorium untuk mengetahui karakteristik dan kemampuan produk.

Salah satu hasil pengujian menunjukkan SMARTFOAM memiliki daya hambat sebesar 25,5 milimeter terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan produk, terutama dari aspek kebersihan.

Proses pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari survei pasar, pengumpulan dan pengolahan limbah kulit buah, pembuatan eco-enzyme, formulasi, pengujian laboratorium, produksi, pengemasan, hingga pemasaran.

Produk diperkenalkan kepada masyarakat melalui bazar, kegiatan car free day di Taman Bungkul Surabaya, lingkungan kampus, media sosial, serta platform Baroatus mengatakan pengembangan SMARTFOAM masih terus dilakukan. Tim berencana menambah varian aroma, menghadirkan kemasan travel size, serta memperluas kerja sama dengan pemasok bahan baku.

Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas pencinta sepatu dan komunitas lingkungan.

“Ke depan, kami ingin terus mengembangkan SMARTFOAM, baik dari sisi varian aroma, kemasan travel size, maupun perluasan kerja sama dengan pemasok bahan baku,” kata Baroatus.

Bagi tim mahasiswa Unusa, PKM-K menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan dari lingkungan kampus menjadi produk yang dapat digunakan masyarakat.

SMARTFOAM sekaligus menunjukkan bahwa limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi bahan baku produk dengan nilai guna dan potensi ekonomi.