Arjuno, Alas Lali Jiwo, dan Sedikit Kenekatan Anak Muda Tahun 2006

Oleh: Junaedi

Sekitar tahun 2006-2007, ada satu himbauan yang kami dengar sebelum mendaki Gunung Arjuno: supaya tidak mengenakan pakaian berwarna merah.

Masalahnya sederhana. Kami sudah telanjur memakainya.

Salah satu yang mengenakan baju merah selain aku adalah Vicky Prayogo. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMP dan menjadi salah satu junior dalam rombongan kami.

Mau ganti baju? Tidak ada.

Mau membatalkan pendakian? Jelas tidak mungkin. 

Maka jurus paling sederhana pun keluar:

Bismillah. Pokok’e berangkat.

Begitulah kira-kira standar keselamatan pendakian kami pada masa itu.

Era 2000-an memang belum seperti sekarang. Pendakian gunung belum seramai hari ini. Mekanisme registrasi, perlengkapan wajib, prosedur keselamatan dan berbagai perangkat pendakian modern belum menjadi sesuatu yang umum seperti sekarang.

Kami berangkat sekitar 11–12 orang.

Pendakian Arjuno itu merupakan perjalanan kedua setelah sebelumnya kami berhasil menaklukkan Gunung Pawitra, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Penanggungan.

Untuk Arjuno, kami memilih jalur Tretes.

Bisa dibilang jalur belakang, karena jalur yang saat itu lebih umum direkomendasikan adalah Purwosari.

Ada alasan tersendiri mengapa kami memilih Tretes. Dari jalur itu, setelah sekitar empat jam berjalan kaki, kami akan tiba di sebuah kawasan hutan cemara yang dikenal dengan nama “Alas Lali Djiwo atau Lali Jiwo”.

Alas Lali Djiwo

Nama tersebut rupanya bukan sekadar cerita yang beredar di kalangan pendaki.

Dalam catatan tahun 1903, Koninklijke Paketvaart Maatschappij pernah menuliskan perjalanan menuju kawasan tersebut. Dalam catatan itu disebutkan bahwa dari Tretes perjalanan menuju Lali Djiwa memakan waktu sekitar empat jam berjalan kaki, sebelum kemudian dilanjutkan menuju kawah Gunung Arjuno.

Catatan lama itu membuat perjalanan kami terasa seperti sedang menyusuri jejak masa yang sudah dilalui orang jauh sebelum kami.

Ketika sampai di kawasan hutan cemara itu, suasananya benar-benar berbeda.

Pohon-pohon menjulang tinggi.

Kabut menyelimuti kawasan hutan.

Di antara pepohonan terbentang savana dengan rumput hijau muda.

Kami berhenti sejenak.

Saya sendiri, sambil menikmati sebatang rokok, sempat berpikir:

“Seandainya tinggal di sini…”

Ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa begitu nyaman.

Jauh dari kota. Jauh dari suara kendaraan. Tidak ada telepon yang berdering. Tidak ada urusan kantor. Tidak ada berita politik.

Hanya hutan, kabut, rumput, dan udara dingin.

Namun lamunan itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba saya tersadar.

“Ini Lali Jiwo.”

Entah mengapa kalimat itu seperti menjadi alarm untuk diri sendiri.

Lamunan berhenti.

Tujuan kami bukan tinggal di sana.

Kami harus melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan, doa, dzikir, hizb dan shalawat terus mengiringi langkah.

Bukan karena kami merasa paling berani.

Justru karena semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa gunung bukan tempat yang bisa diperlakukan sembarangan.

Kalau melihat perlengkapan kami sekarang, mungkin pendaki zaman sekarang akan geleng-geleng kepala.

Logistik minim.

Peralatan pendakian seadanya.

Bahkan mayoritas kami hanya mengenakan sandal jepit.

Dan tentu saja, sandal jepit itu tidak semuanya berhasil bertahan sampai akhir.

Satu demi satu copot di tengah perjalanan.

Pada akhirnya beberapa dari kami harus berjalan tanpa alas kaki.

Kalau sekarang dipikir-pikir, memang agak sulit dipercaya.

“Mendaki Arjuno pakai sandal jepit.”

Tetapi begitulah anak muda zaman itu.

Sedikit nekat, sedikit bodoh, tetapi percaya diri.

Alam kemudian mengingatkan kami bahwa gunung tidak pernah peduli dengan rasa percaya diri manusia.

Cuaca berubah.

Hujan turun.

Kabut semakin tebal.

Udara menjadi semakin dingin.

Perjalanan terasa semakin berat.

Akhirnya kami harus mengurungkan niat untuk mencapai puncak.

Tidak apa-apa.

Gunung tidak ke mana-mana.

Puncak bisa dicoba lain waktu.

Yang penting kami bisa pulang.

Baju sudah basah dan lepek. Hawa dingin menusuk sampai tulang. Beberapa masih harus berjalan tanpa alas kaki.

Tetapi perjalanan pulang tetap dilanjutkan.

Dan justru di sepanjang perjalanan itulah kami mengalami berbagai peristiwa yang hingga sekarang masih sulit dijelaskan.

Kami mengalami beberapa kejadian yang saat itu kami anggap sebagai pengalaman mistis.

Tidak semuanya bisa diceritakan. Ada ketakutan, bahkan trauma. 

Ada yang terjadi sejak awal pendakian hingga kami mencapai pondokan, tempat para penambang belerang biasa beristirahat.

Di pondokan yang kami anggap sebagai Pos 3, kami juga menjumpai seorang pendaki perempuan yang mengalami kesurupan.

Medan Arjuno memang berat.

Ditambah cuaca buruk, kabut, hujan dan hawa dingin, suasana alam saat itu benar-benar terasa mengintimidasi.

Beruntung, di tengah rombongan kami ada seorang guru sekaligus teman yang juga seorang jawara dan pendekar Pagar Nusa.

Sebelumnya, ia pula yang ikut menggembleng kami.

Jadi setidaknya secara mental kami merasa tidak sendirian.

Ada konteks lain yang membuat perjalanan ke gunung pada masa itu terasa istimewa.

Tahun 1998 hingga sekitar 2004 adalah periode ketika kehidupan sosial-politik Indonesia sedang sangat dinamis.

Tragedi Ninja Banyuwangi, konflik Ambon, berbagai gejolak politik, hingga pelengseran Gus Dur menjadi bagian dari suasana zaman yang kami alami sebagai anak muda.

Suhu politik panas.

Kehidupan sosial juga penuh ketegangan.

Maka mendaki gunung bagi kami bukan sekadar kegiatan mencari ketinggian.

Gunung menjadi semacam ruang untuk mengambil jarak.

Menjauh sebentar dari kebisingan.

Menyegarkan kepala.

Mencari udara yang lebih dingin sekaligus memberi ruang bagi pikiran untuk kembali tenang.

Daripada pergi ke Jakarta… mending naik gunung saja.”

Kalau sekalian bisa menyalurkan bakat kanuragan, ya bonus.

Kini, hampir dua dekade berlalu.

Banyak hal berubah.

Perlengkapan pendakian semakin canggih. Informasi jalur semakin mudah diperoleh. Teknologi navigasi semakin maju. Pendakian gunung juga menjadi bagian dari gaya hidup yang jauh lebih populer.

Tetapi ada satu hal yang tidak berubah:

kenangan.

Kami mungkin gagal mencapai puncak Arjuno pada hari itu.

Namun kami mendapatkan sesuatu yang lain.

Tentang persahabatan.

Tentang keberanian yang kadang terlalu besar dibanding perlengkapan.

Tentang dinginnya hujan yang membuat kami menggigil.

Tentang sandal jepit yang menyerah di tengah jalan.

Tentang doa yang terus dilafalkan ketika medan mulai terasa berat.

Dan tentang masa muda yang, sekali berlalu, tidak pernah bisa didaki ulang.

“Arjuno, sekitar 2004″

Kami tidak sampai puncak.

Tetapi kami pulang membawa cerita.

Dan mungkin, setelah hampir dua puluh tahun, cerita itulah yang ternyata menjadi puncak perjalanan kami.@

 

Penulis adalah: jurnalis senior sekaligus pimpinan redaksi SurabayaPostNews