iPhone atau Sapi? Ketika Peradaban Memilih Simbol daripada Aset

Oleh : Junaedi

Di atas meja ada dua pilihan.

Harga keduanya misalnya sama: 20 juta.

Yang satu adalah iPhone terbaru. Mengilap, elegan, dan menjadi simbol prestise. Yang lain adalah seekor sapi. Tidak memiliki layar OLED, tidak mampu menjalankan aplikasi, tetapi mampu melahirkan anak, menghasilkan susu, dan dalam kondisi tertentu dapat bertambah nilai.

Dua tahun kemudian, gambar itu berbicara lebih keras daripada seribu statistik.

Layar iPhone retak. Nilainya turun drastis. Sementara sapi mungkin telah berkembang biak dan menghasilkan aset baru.

Mengapa masyarakat modern lebih memilih benda yang menyusut nilainya daripada aset yang berpotensi berkembang?

Jawabannya tidak sesederhana “karena orang suka teknologi”.

Peradaban modern telah menggeser definisi kekayaan.

Kekayaan tidak lagi selalu diukur dari kemampuan menghasilkan nilai, tetapi juga dari kemampuan mengirimkan sinyal sosial.

Seseorang membawa iPhone ke sebuah kafe. Dalam beberapa detik, benda itu mengirim pesan tanpa kata-kata: modern, mengikuti tren, mampu membeli teknologi premium. Sapi tidak mengirim sinyal seperti itu. Ia hanya diam. Padahal, secara ekonomi, ia mungkin lebih produktif.

Inilah paradoks masyarakat konsumsi.

Kita hidup di zaman ketika simbol sering mengalahkan substansi.

Manusia tidak membeli barang hanya karena fungsi. Mereka membeli makna. Makna itu dibangun oleh iklan, media sosial, budaya populer, dan lingkungan. Sebuah logo di belakang ponsel dapat menjadi identitas sosial yang lebih kuat daripada laporan investasi.

Jika Karl Mark masih hidup dijaman Ini mungkin akan bertanya secara kritis “Mengapa orang membeli iPhone?”

Atau “Siapa yang diuntungkan ketika masyarakat lebih mengejar konsumsi daripada kepemilikan aset produktif?”

Marx akan mengatakan bahwa kapitalisme tidak hanya menjual barang. Ia juga menjual keinginan.

Barang tidak lagi dipandang berdasarkan nilai gunanya semata, tetapi juga berdasarkan nilai yang dilekatkan masyarakat kepadanya.

Namun, kita juga perlu jujur terhadap kenyataan.

Bagi seorang peternak, sapi adalah alat produksi.

Bagi seorang jurnalis, fotografer, pembuat film, atau pengembang aplikasi, iPhone juga dapat menjadi alat produksi yang menghasilkan pendapatan.

Masalahnya bukan terletak pada iPhone atau sapi, melainkan cara manusia memaknai kepemilikan.

Apakah kita membeli alat untuk menciptakan nilai?

Atau kita membeli simbol agar terlihat bernilai?

Peradaban modern mungkin tidak sedang mengalami krisis teknologi.

Ia sedang mengalami krisis orientasi nilai.

Ketika simbol lebih dihargai daripada kemampuan menghasilkan masa depan, masyarakat perlahan mengubah konsumsi menjadi identitas.

Ini bukan soal “Mengapa orang memilih iPhone daripada sapi?”

Melainkan: “Kapan kita mulai percaya bahwa apa yang tampak di tangan lebih penting daripada apa yang tumbuh di kandang?”

Mungkin, di situlah arah sebuah peradaban sedang ditentukan.@

Penulis adalah redaktur senior di SurabayaPostNews