SURABAYAPOSTNEWS.COM, (Surabaya) – Insiden kecelakaan maut antara Kereta Api (KA) Pasundan dengan Mobil Brio di pelintasan Kebon Sari Manunggal, Surabaya pada Minggu malam (24/4/2022) menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Pasalnya, peristiwa Naas itu terjadi dalam suasana mendekati hari raya Idul Fitri 2022.
Dalam insiden kecelakaan itu, tiga orang pemuda dinyatakan meninggal dunia setelah tertabrak KA Pasundan. Mereka antara lain FAM (19), MZ (19) dan AB (19).
Titik Widiati, ibunda FAM saat ditemui wartawan mengatakan tidak mempunyai firasat apapun sebelum kejadian. Namun seminggu sebelumnya ia melihat gelagat aneh pada tingkah laku putranya tersebut.
“Awalnya saya tidak punya firasat apa-apa. Tetapi, seminggu sebelumnya sikap Fairus itu agak ‘nyeleneh’. Sering saya dilihatin sambil tersenyum. Kadang kayak orang bingung. Pokoknya tidak kayak biasanya,” ucap Titik saat ditemui di rumah duka, Senin (25/4).
Warga Jalan Margorejo itu menambahkan, jika FAM adalah anak yang penurut, sopan dan ramah kepada siapapun. Selain itu, dia menyebut anaknya itu selalu ingin mandiri.
FAM juga rajin mengantarkannya ke Pasar.
“FAM itu kalau ingin sesuatu maunya pakai uangnya sendiri. Dia itu usaha jual beli ikan arwana. Pernah waktu itu saya dikasih uang, katanya hasil dari jualan ikan. Kerjasama dengan temannya,” bebernya.
Pamit Buka Bersama
Sebelum terjadinya peristiwa naas itu, FAM sempat berpamitan kepadanya akan mendatangi buka bersama teman alumni SMP (Sekolah Menengah Pertama), Selain itu ada kata-kata aneh yang diucapkan FAM.
“Dia ada bilang aneh-aneh. Yang mau mengantar jauh, mandi biar bersih dan yang paling buat saya kaget itu dia bilang habis buka bersama juga tidak ketemu lagi sama teman-temannya,” tuturnya.
Pada Malam kejadian, Titik mengungkapkan bahwa dia sempat tertidur saat menunggu pulang FAM. Dia terbangun karena merasa jantungnya seperti tertarik sampai tenggorokan.
Kemudian, Titik menelepon kakak FAM yaitu Tedi Novan Maulana untuk menghubungi adiknya tersebut.
“Waktu terbangun itu seperti ke tarik jantung saya. Spontan saya langsung menanyakan ke papanya, FAM sudah pulang apa belum. Padahal anak saya tiga. Dan saat itu semuanya belum pulang. Saya hubungi anak saya yang pertama ,” ungkapnya.
Titik mengaku mengetahui anaknya telah tiada ketika ditelepon oleh ibu dari teman SMU FAM. Saat itu, Titik disarankan ke RS Bhayangkara untuk mengecek kondisi FAM.
“Mama temannya FAM telepon saya sambil menangis. Dia bilang suruh saya mengecek ke rumah sakit. Kalau tidak kuat disuruh suami saya saja. Saya langsung lemas. Pasti ada apa-apa. Dan benar saja, FAM meninggal karena tertabrak kereta api,” jelasnya.
Sementara itu, para tetangga yang engga disebut namanya saat ditemui mengatakan hal yang sama. Fairus disebut anak yang sopan, pendiam dan sering menyapa bila bertemu siapa saja.
“Anaknya baik Mas. Sopan. Kalau ketemu orang mesti menyapa duluan,” ujar wanita tetangga depan rumah duka.@ **