Matahari baru saja terbit di balik pepohonan rindang ketika lonceng pesantren berdentang pelan. Suasana 1 Muharram 1423 H terasa berbeda. Udara masih sejuk, namun halaman utama sudah dipenuhi ratusan santri yang duduk bersila di atas tikar hijau.
Hari itu, salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur sebut saja Ponpes Al-Barakah mengadakan lomba puisi dan syair Islami tingkat internal.
Tema utamanya sederhana namun dalam yakni “Niat yang Sempurna.”
Di antara barisan santri yang rapi berjubah putih, ada satu sosok yang selalu mencuri perhatian—bukan karena kepintaran atau kealimannya, melainkan karena reputasi kurang baik yang sudah dikenal seluruh santri dan para ustadz.
Namanya Jienan (Bukan Nama Asli) . Santri kelas akhir yang terkenal mblunat, mbeling, dan nakal. Ia sering bolos ngaji, ketahuan merokok di belakang dapur, bahkan pernah memanjat tembok pesantren tengah malam hanya untuk mencuri ikan di kolam milik kiyai.
Para pengurus sudah berkali-kali memarahinya. Sebagian santri menjulukinya “Jienan Mbleot.” Tapi entah mengapa, Kiai Iskandar Harun Rasyid (Bukan Nama Sebenarnya), pengasuh pesantren yang berwibawa itu, selalu menahan diri untuk tidak mengeluarkannya.
Pukul delapan tepat, lomba dimulai. Satu per satu peserta naik ke panggung sederhana yang dihiasi kain hijau dan kaligrafi.
Syair-syair tentang taubat, tentang cinta kepada Rasul, tentang keikhlasan dibacakan dengan suara gemetar maupun penuh semangat. Tepuk tangan bergema.
Ketika giliran Jienan dipanggil, suasana langsung berubah. Bisik-bisik terdengar.
“Wah, Jienan juga ikut?”
“Pasti cuma iseng.”
“Jangan-jangan puisi yang dibaca nanti isinya lucu-lucuan.”
Jienan berjalan pelan ke panggung. Rambutnya agak acak-acakan, baju koko putihnya kusut di bagian lengan. Ia berdiri diam beberapa detik, menatap ke arah para santri, lalu menunduk sejenak.
Kemudian, dengan suara yang tiba-tiba tenang, dalam, dan penuh penghayatan, ia mulai membacakan syairnya:
Dari hajis yang sekejap menyapa,
Rasa menyelinap tanpa suara.
Khatir pun mengalir lembut di dada,
membayang namamu sepanjang waktu.
Hadisun nafs berbisik penuh ragu,
namun hamm semakin dalam mengakar.
Hingga azam datang bagai fajar,
tekad tak tergoyahkan:
hanya Engkau yang aku niatkan,
selamanya.
Hening.
Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bergumam. Semua mata tertuju padanya.
Syair itu sederhana, tapi setiap kata seolah keluar dari kedalaman hati dan ilmu yang sudah lama terlatih.
Jienan tidak membacakannya dengan gaya berlebih. Ia membacakannya seolah sedang mengungkapkan sesuatu yang sudah lama hidup di dalam dirinya.
Ketika baris terakhir terucap, “hanya Engkau yang aku niatkan, selamanya,” Jienan menundukkan kepala dengan tenang.
Suasana masih hening selama beberapa detik, sebelum tiba-tiba tepuk tangan meledak dari sudut belakang.
Tepuk tangan itu berasal dari Kiai Iskandar Harun Rasyid.
Kiai yang biasanya tenang itu berdiri.
Wajahnya terlihat pucat, matanya berkaca-kaca. Ia kemudian melangkah mendekati panggung dengan langkah yang sedikit gemetar.
Seluruh santri terdiam menyaksikan.
“Siapa namamu, nak?” tanya Kiai Iskandar dengan suara serak.
Jienan mengangkat wajah perlahan. “Jienan Saka bin… bin…,” ucapnya terbata.
Kiai Iskandar mengernyit. “Bin… bin apa? Ada tiga bin?” kiyai Iskandar terkejut pada nama Bin yang ke tiga.
Jienan menunduk sebentar, lalu menjawab dengan suara lebih jelas, “Jienan Saka bin. . . . bin. . . . . Dari Gresik.”
Kiai Iskandar terdiam. Matanya menyipit. “……… dari Gresik?”
“Ya, Kiai. Kakek saya… ….
Suasana seketika membeku. Nama silsilah terakhir Jienan itu bukan nama sembarangan bagi kiyai Iskandar, ia dikenal akan kedalaman ilmu dan kesufiannya.
Dan Kiai Iskandar Harun Rasyid pernah berguru langsung kepadanya di masa muda.
Kiai Iskandar memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, air mata sudah mengalir. Ia naik ke panggung, meraih kedua tangan Jienan, dan menciumnya dengan penuh hormat.
“Astaghfirullah…,” gumamnya pelan.
“Selama ini engkau di sini, dan aku tidak tahu. Cucu dari Guru ku sendiri…”
Di balik perilaku mblunat dan mbeling yang sering ditunjukkan Jienan.
Perilaku “nakalnya” hanyalah lapisan luar yang ia pilih.
Kiai Iskandar kemudian menatap seluruh santri dan berkata dengan suara yang bergetar namun penuh wibawa:
“Perhatikan baik-baik syair yang baru saja dibacakan Gus Jienan. Di dalamnya tersimpan perjalanan hati dan kedalaman ilmu.
Hajis adalah lintasan paling awal—sekilas pikiran yang datang dan pergi sekejap, tanpa disengaja.
Khatir adalah ketika lintasan itu mulai mengalir dan membayang di hati.
Hadisun nafs adalah saat hati mulai berbisik dan bimbang, menimbang antara melakukan atau tidak.
Hamm adalah keinginan yang sudah menguat dan condong, meski belum sepenuhnya pasti.
Dan azam adalah tekad yang sudah bulat, niat yang kokoh, yang siap diwujudkan.
Inilah perjalanan dari sekadar lintasan menjadi niat yang sempurna.
Siapa yang mampu menjaga hati dari tahap paling awal, ia akan sampai pada azam yang tulus di sisi Allah.” kata kiyai.
Lalu Kiai Iskandar menatap Jienan dalam-dalam. “Mulai hari ini, aku memanggilmu dengan sebutan yang semestinya. Gus Jienan.”
Kata itu menggantung di udara. Seluruh santri terkejut.
Santri yang selama ini dianggap mbeling, ternyata adalah cucu dari guru besar sang Kiai—dan lebih dari itu, ia membawa warisan yang selama ini tersembunyi.
Malam itu, di ndalem, di bawah lampu minyak yang temaram, Kiai Iskandar kembali berbicara pelan kepada Jienan:
“Engkau sudah membawa warisan itu sejak kecil, Gus. Jaga baik-baik cahaya yang sudah ada dalam dirimu. Jangan biarkan Azam baik padam”kata kiyai.
Jienan hanya mengangguk dengan ketenangan yang khas.
Malam itu, di bawah langit 1 Muharram yang penuh bintang, sosok yang selama ini dianggap mbeling diakui sebagaimana adanya: seorang santri yang memilih jalan sunyi di balik sikapnya yang penuh teka-teki.
Dan di pesantren itu, sejak hari itu, setiap kali ada santri yang mulai melenceng, para pengurus hanya perlu mengingatkan satu hal:
“Ingat syair Gus Jienan. Dari hajis hingga azam… semuanya dimulai dari hati.”