SURABAYA (SurabayaPostNews) – Pemerintahan Khofifah Indar Parawansa bersama Emil Elestianto Dardak menandai satu tahun kepemimpinan periode berjalan dengan mencatat berbagai capaian di sektor pendidikan. Melalui implementasi Nawa Bhakti Satya ke-6, Jatim Cerdas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmen menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, sektor pendidikan menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Berbagai program strategis dijalankan, bahkan sebagian melampaui target.
“Jumlah satuan pendidikan di Jawa Timur sangat besar, mulai dari 439 SMA negeri dan 1.083 SMA swasta, serta 299 SMK negeri dan 1.868 SMK swasta. Ini menuntut strategi pemerataan yang serius. Alhamdulillah, banyak program berjalan sukses,” ujar Aries, Minggu (22/2).
Dari sisi pembiayaan, Bantuan Siswa Miskin (BSM) terealisasi sebesar Rp46,826 miliar untuk 46.826 siswa. Revitalisasi gedung sekolah tidak layak mencakup 215 SMA dengan anggaran Rp170,8 miliar, 175 SMK sebesar Rp544,4 miliar, serta 67 SLB dengan nilai Rp56,3 miliar.
Program Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) juga terealisasi Rp1,274 triliun untuk 1.312.512 siswa di 4.058 SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Timur. Sementara itu, BOSDA Madrasah Diniyah (Madin) mencapai Rp198,5 miliar bagi 111.785 siswa ula dan wusta di 38 kabupaten/kota.
Pada aspek penguatan karakter, Dindik Jatim menambah satu sekolah ketarunaan, yakni SMAN Taruna 2 Pamong Praja Bojonegoro. Dengan tambahan ini, Jawa Timur kini memiliki enam SMAN Taruna.
“Ibu Gubernur dan Pak Wagub tidak hanya fokus pada prestasi akademik. Melalui sekolah ketarunaan, nasionalisme dan karakter kepemimpinan dibentuk sejak SMA agar kelak lahir pemimpin bangsa dari Jawa Timur,” ujar Aries.
Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan juga terus dilakukan. Sepanjang 2025, Pemprov Jatim merehabilitasi ruang kelas dengan anggaran Rp54,4 miliar untuk 119 SMA, Rp27,3 miliar untuk 86 SMK, serta Rp13,4 miliar untuk SLB.
Dari sisi prestasi, Jawa Timur mencatatkan juara umum Lomba Kompetensi Siswa Nasional (LKSN) tiga kali berturut-turut, serta juara umum O2SN, FLS3N, dan OPSI. Selama enam tahun berturut-turut, Jatim juga menjadi provinsi dengan jumlah siswa terbanyak yang lolos perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP dan SNBT.
Program inovatif SIKAP yang diikuti 754 SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta turut mendukung ketahanan pangan dan menanamkan jiwa kewirausahaan siswa melalui pertanian dan peternakan. Sementara enam SMAN Taruna mencatatkan 249 siswa lolos PTN, 327 siswa diterima sekolah kedinasan, 79 siswa masuk PTS, dan delapan siswa melanjutkan studi ke luar negeri.
Perhatian terhadap kesejahteraan guru juga menjadi sorotan. Pada peringatan Hari Guru Nasional, Gubernur Khofifah memberikan bantuan sosial bedah rumah kepada 20 guru dengan nilai Rp20–25 juta per orang.
“Kesejahteraan guru menjadi perhatian serius. Apresiasi ini adalah bentuk terima kasih atas pengabdian para pendidik,” kata Aries.
Selain itu, Program Terapan Ekonomi Kreatif Guru (Proteg) yang telah berjalan dua tahun menjadi wadah guru honorer mengembangkan usaha di berbagai sektor, mulai kuliner hingga jasa pendidikan. Program ini didukung pendampingan intensif Dindik Jatim bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sehingga usaha guru honorer memiliki legalitas dan peluang berkembang.
“Proteg bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Banyak guru honorer kini mampu mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Di bidang inovasi, East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2025 mencatat 24.626 pendaftar dan menghasilkan 19.720 karya inovasi pendidikan. Berdasarkan data BSKDN, Jawa Timur menjadi provinsi dengan inovasi pendidikan terbanyak secara nasional, yakni 1.723 inovasi atau sekitar 29 persen dari total inovasi pendidikan di Indonesia.
Penguatan kewirausahaan siswa juga dilakukan melalui program SMA Double Track yang diikuti 9.600 siswa di 144 lembaga. Rata-rata omzet unit usaha siswa mencapai Rp5–7 juta per bulan, dengan total akumulasi pendapatan hingga September 2025 sebesar Rp4,7 miliar.
“Capaian ini menegaskan komitmen Pemprov Jatim menghadirkan pendidikan yang tidak hanya merata dan berkualitas, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat,” tutur Aries.