Pakar Ungkap Bahaya Spyware Modern Ancam Keamanan Perangkat

Ancaman siber saat ini tidak selalu terlihat. Perangkat bisa saja terinfeksi tanpa ada tanda-tanda mencurigakan

SURABAYA (SurabayaPostNews) – Gawai kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mulai dari berkirim pesan, berbelanja, hingga mengakses layanan publik, hampir semuanya dilakukan lewat perangkat digital. Namun, di balik kemudahan itu, ancaman siber juga berkembang secara senyap dan semakin sulit dikenali.

Pakar Teknologi Informasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, menyoroti kemunculan spyware canggih bernama Graphite yang dikaitkan dengan Paragon Solutions. Spyware jenis ini berbeda dengan virus komputer yang mudah terdeteksi. Ia bisa menyusup ke sistem operasi ponsel tanpa disadari pengguna dan bertahan dalam waktu lama.

“Ancaman siber saat ini tidak selalu terlihat. Perangkat bisa saja terinfeksi tanpa ada tanda-tanda mencurigakan,” ujar Supangat, (20/2/26)

Supangat yang juga merupakan Wakil Rektor II Untag Surabaya,  menjelaskan, banyak pengguna merasa aman karena menggunakan aplikasi pesan dengan sistem enkripsi. Padahal, enkripsi hanya melindungi pesan saat dikirim. Jika sistem operasi ponsel sudah disusupi, data tetap berisiko diakses sebelum atau sesudah proses enkripsi.

Kondisi ini membuat keamanan perangkat menjadi perhatian utama. Apalagi, laporan keamanan global menunjukkan serangan siber kini banyak memanfaatkan celah pada perangkat, bahkan tanpa perlu korban mengklik tautan apa pun.

Di Indonesia, ancaman tersebut juga nyata. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat anomali trafik siber terus terjadi setiap tahun, mulai dari serangan malware hingga upaya pembobolan sistem digital.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi. Namun menurut Supangat, tantangan terbesarnya terletak pada penerapan di lapangan dan kesiapan sumber daya manusia.

“Keamanan siber tidak cukup hanya dengan teknologi canggih. Perlu tata kelola yang baik dan kesadaran pengguna,” katanya.

Sebagai Dosen Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya, Supangat juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat riset dan edukasi keamanan digital, sekaligus membangun kolaborasi dengan industri dan regulator. Di sisi lain, pengguna juga perlu lebih disiplin memperbarui sistem, menjaga keamanan perangkat, dan memahami risiko digital.

Di tengah pesatnya transformasi digital, menjaga keamanan gawai pribadi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sebab, satu perangkat yang terkompromi bisa berdampak luas, tidak hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi keamanan data dan kepercayaan publik secara keseluruhan.