Jaringan Mafia Joki UTBK Terbongkar, 15 Tersangka Ditangkap 2 Diantaranya Dokter

Kami berhasil mengidentifikasi 15 tersangka dari berbagai cluster, mulai dari joki, pemberi order, hingga pembuat KTP palsu. Jaringan ini sangat terorganisir di bawah koordinasi saudara NI. Tarifnya mulai Rp500 juta hingga Rp700 juta, terutama untuk mereka yang ingin masuk Fakultas Kedokteran

SURABAYA (SurabayaPostNews) – Praktik mafia joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang diduga telah berlangsung selama sembilan tahun akhirnya terbongkar. Jaringan lintas provinsi tersebut diduga berhasil meloloskan sedikitnya 114 calon mahasiswa ke berbagai kampus favorit di Indonesia, terutama Fakultas Kedokteran, dengan tarif fantastis mencapai Rp700 juta per orang.

Kasus ini viral di media sosial setelah sejumlah pelaku joki tertangkap di kampus Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur akibat identitas mereka tidak sesuai dengan dokumen peserta ujian.

Salah satu pelaku yang diamankan adalah pria berinisial HR, seorang joki asal Surabaya. Ia ditangkap saat sedang mengerjakan soal UTBK di lantai empat Gedung Rektorat Unesa Lidah Wetan, Surabaya.

Aksi HR terbongkar setelah pengawas ujian mencurigai foto administrasi peserta yang dinilai identik dengan data tahun sebelumnya, namun menggunakan identitas berbeda. Meski sempat tenang dan mampu menyelesaikan soal dengan nilai tinggi, kebohongannya runtuh ketika tidak mampu menjawab pertanyaan dasar terkait identitas pada KTP yang dibawanya.

Dari penangkapan HR, polisi kemudian membongkar jaringan mafia pendidikan yang disebut telah beroperasi sejak 2017. Para pelaku diduga memiliki peran berbeda, mulai dari joki lapangan, pemberi order, hingga pembuat identitas palsu.

Kapolrestabes Surabaya, Luthfie Sulistiawan, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi sedikitnya 15 tersangka dari berbagai klaster jaringan.

“Kami berhasil mengidentifikasi 15 tersangka dari berbagai cluster, mulai dari joki, pemberi order, hingga pembuat KTP palsu. Jaringan ini sangat terorganisir di bawah koordinasi saudara NI. Tarifnya mulai Rp500 juta hingga Rp700 juta, terutama untuk mereka yang ingin masuk Fakultas Kedokteran,” ujarnya.

Polisi menyebut jaringan tersebut beroperasi di sejumlah wilayah, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Kalimantan.

Sementara itu, pihak Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur mengungkap modus baru yang digunakan pelaku, yakni datang terlambat dan tergesa-gesa menjelang ujian dimulai agar lolos dari pemeriksaan ketat.

Namun, pengawas akhirnya curiga saat melakukan verifikasi lanjutan di dalam ruang ujian karena wajah peserta dinilai berbeda dengan foto yang terdaftar. Setelah dilakukan pengecekan ke sekolah asal, identitas asli pelaku berinisial HZ asal Sumatra akhirnya terungkap.

Tim Humas Pusat UTBK UPN Veteran Jatim, Windri Saifudin, memastikan kasus tersebut telah dilaporkan kepada panitia pusat dan aparat penegak hukum.

“Kasus ini kini telah dilaporkan ke panitia pusat dan diserahkan ke pihak berwenang untuk proses hukum lebih lanjut,” katanya.

Bisnis joki UTBK ini disebut sangat menguntungkan. Setiap joki lapangan diduga memperoleh bayaran Rp20 juta hingga Rp30 juta, sementara sebagian besar keuntungan masuk ke koordinator jaringan.

Saat ini, polisi telah menahan 14 tersangka, termasuk joki berinisial MEN dan TA. Aparat juga masih memburu dua jaringan besar lain yang diduga dikendalikan oleh L dan NI, yang disebut sebagai otak utama penyedia jasa joki skala nasional.

Di sisi lain, nasib 114 mahasiswa yang diduga lolos menggunakan jasa joki kini berada di ujung tanduk. Aparat dan pihak kampus masih melakukan pendalaman terkait kemungkinan sanksi akademik maupun proses hukum lanjutan.