Ada satu benda yang saya simpan dan perlakukan sedikit berbeda dari lainnya. Yakni pecahan mata uang $1 USD
Sesekali saya beri minyak wangi, semprotkan pengharum, lalu dikemas kembali dengan rapi. Pada waktu tertentu, membakarinya dengan dupa, membiarkan asapnya naik perlahan dan menyentuh lembaran itu.
Bukan karena saya menganggap dolar itu memiliki daya gaib atau kesaktian. Tapi ada sesuatu yang ingin saya rawat di dalamnya.
Bagi saya, ia bukan sekadar uang.
Ia adalah simbol.
Saya memaknainya sebagai “induk”. dari Mata Uang dunia, Bukan induk dalam pengertian ekonomi yang harfiah, melainkan sebuah pusat— titik yang mengingatkan saya pada sesuatu yang jauh lebih besar yakni, nilai, modal, kelimpahan, dan cara manusia memperlakukan semuanya.
Mungkin bagi orang lain, satu dolar hanyalah satu dolar, justru karena ia kecil, ia menjadi menarik.
Ia tidak cukup besar untuk membuat seseorang merasa kaya. Tetapi cukup kecil untuk membuat kita bertanya:
Sebenarnya, dari mana kekayaan berasal?
Terdapat sebuah gagasan dalam tradisi Islam: Ummul Kitab, induk kitab, yang merujuk kepada surat Al-Fatihah.
Saya tentu tidak sedang menyamakan dolar dengan Al-Fatihah..
Yang saya pinjam hanyalah gagasan tentang pusat atau segala hal memiliki induknya.
Sesuatu yang menjadi titik awal bagi cara kita melihat sesuatu yang lebih besar.
Al-Fatihah memiliki tempat sebagai pusat dalam pengalaman ibadah.
Satu dolar, dalam perjalanan pribadi saya, menjadi semacam pusat untuk membaca dunia ekonomi.
Dari satu dolar saya berpikir tentang rupiah.
Dari rupiah saya berpikir tentang nilai tukar.
Dari nilai tukar saya berpikir tentang perdagangan.
Dari perdagangan saya berpikir tentang negara.
Dari negara saya berpikir tentang kekuasaan.
Dan akhirnya sampai pada pertanyaan yang lebih dalam:
Mengapa manusia percaya bahwa sesuatu hal termasuk kertas dapat mempunyai nilai?
Di situlah satu lembar uang berubah menjadi lebih dari sekadar uang.
Ia menjadi cara pandang dan memaknai dunia.
Mungkin sebagian orang akan bertanya, mengapa sampai diberi minyak wangi dan diasapi dupa?
Jawabannya sederhana.
Karena saya percaya bahwa cara kita memperlakukan sebuah benda sering kali mencerminkan cara kita memperlakukan makna yang kita letakkan di dalamnya.
Saya tidak sedang menyucikan uang.
Tapi sedang membangun sebuah laku kesadaran.
Ketika saya merawat lembaran itu, muncul pengingat akan hasil dari waktu, tenaga, pikiran, keberanian, kesempatan, dan kepercayaan.
Saya tidak menunggu uang mencari saya.
Saya sudah keluar dari cara berpikir seperti itu.
Saya ingin menjadi orang yang mampu mengarahkan nilai.
Sebagian disimpan.
Sebagian menjadi cadangan.
Sebagian diputar menjadi aset.
Sebagian dikembalikan menjadi pengetahuan dan kemampuan.
Dan ketika pendapatan bertambah, kemampuan mengelola uang juga ikut bertambah.
Sebab kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak yang datang. Tapi seberapa baik kita mengarahkan apa yang sudah datang.
Satu dolar itu menjadi titik pusat induk.
Sedangkan uang yang lain harus mempunyai arah ke pusat induk itu sendiri.
Yang saya rawat bukanlah dolar itu.
Saya sedang merawat cara pandang terhadap nilai.
Memahami nilai.
Memahami modal.
Memahami bagaimana sesuatu yang kecil bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar.
Satu dolar itu mungkin tidak berarti banyak bagi dunia.
Tetapi ia mempunyai arti bagi saya.
Ia adalah pengingat kecil bahwa sesuatu yang besar sering kali bermula dari sesuatu yang sangat sederhana.
Dan mungkin, pada akhirnya, bukan uang yang mencari induknya.
Sayalah yang harus menjadi pusatnya.
Dan tahu bagaimana cara menerimanya, menjaganya, mengarahkannya, dan membuatnya bertumbuh.@ *