Wagimen dan Istrinya: Dua Orang yang Membuat Saya Curiga pada Arti Bahagia

Oleh Junaedi

Menjelang malam, sebuah sentra kuliner di daerah surabaya barat mulai ramai. Orang datang silih berganti, sebagian mencari makan, sebagian hanya ingin duduk, berbincang, atau sekadar menikmati kopi setelah seharian beraktivitas.

Di antara keramaian itu, ada satu pemandangan sederhana yang beberapa kali menarik perhatian.

Seorang lelaki sekitar 50 tahun datang bersama istrinya. Sebut saja Wagimen. Ia seorang tunanetra.

Sang istri menggandeng tangannya ketika mereka berjalan memasuki sentra kuliner.

Pelan-pelan mereka melewati orang yang lalu-lalang, mencari tempat untuk duduk. Tidak tampak tergesa-gesa. Seolah mereka sudah hafal ritme langkah masing-masing.

Kadang mereka makan. Kadang hanya memesan kopi.

Mereka duduk berdua, berbicara tentang sesuatu yang tidak saya dengar. Sesekali sang istri terlihat tersenyum, kemudian Wagimen ikut tersenyum.

Ada kalanya mereka juga tertawa kecil bersama.

Di tengah keramaian itu, sang istri juga tampak bersolek dan memperhatikan penampilannya. Hal kecil yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Namun entah mengapa saya justru memperhatikannya.

Suaminya tidak bisa melihat.

Tetapi ia tetap bersolek.

Bukan berarti saya tahu untuk siapa atau apa alasannya. Saya hanya melihat seorang perempuan yang tetap ingin tampil cantik dan rapi ketika pergi bersama suaminya.

Dan mungkin, memang tidak semua hal dalam cinta harus bisa dilihat untuk tetap memiliki arti.

Malam ini, Jumat 02/10/2026, saya mencoba berkenalan dengan mereka.

Sempat kami berbincang dan  seperti orang yang penasaran melihat sebuah kebersamaan yang terasa hangat, saya sedikit bertanya tentang bagaimana mereka menjaga keharmonisan.

Jawabannya justru sederhana.

Ia berkata,

“Kalau ingin besar, jadilah besar sekalian. Kalau merasa kecil, jadilah paling kecil sekalian.”

Saya terdiam sebentar mendengarnya.

Mungkin setiap orang bisa menangkap makna yang berbeda dari kalimat itu. Bagi saya, ada kerendahan hati yang dalam di sana. Bukan rendah diri, melainkan kemampuan untuk menempatkan diri tanpa sibuk membuktikan diri kepada orang lain.

Merendahlah sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi memiliki ruang untuk merendahkanmu.

Dan jika memilih berdiri tinggi, berdirilah dengan tanggung jawab, bukan dengan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Percakapan kami kemudian berbelok menjadi sesuatu yang tidak saya duga.

Wagimen justru mengatakan bahwa ia jarang melihat orang seusia saya memperhatikan seseorang seperti dirinya.

Menurutnya, sebagian orang mungkin hanya melihat seorang tunanetra sebagai pemandangan sesaat—sesuatu yang kemudian menjadi bahan cerita lucu atau pembicaraan singkat setelahnya.

Tetapi, menurutnya saya berbeda.

Ia merasakan ada kepekaan dan intuisi tertentu dalam cara saya memperhatikannya. Ia bahkan mengatakan, meski tidak tahu pekerjaan saya, tidak tahu profesi saya, dan tidak tahu bagaimana kehidupan sosial saya, ia merasa saya adalah orang yang mungkin dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar saya karena sikap tepo seliro yang saya miliki.

Saya tentu tidak tahu apakah penilaiannya itu benar. Pun tidak ingin menjadikannya sebagai alasan untuk merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Pujian dari seseorang yang tidak dapat melihat wajah saya membuat saya berpikir: mungkin manusia memang tidak selalu dinilai dari apa yang tampak.

Wagimen tidak tahu pakaian apa yang saya kenakan. Tidak tahu pekerjaan saya. Tidak tahu apa yang saya miliki. Bahkan ia tidak tahu seperti apa kehidupan saya ketika meninggalkan tempat itu.

Ia hanya mengenal saya dari percakapan dan cara saya memperlakukannya.

Dan mungkin itu yang membuat kalimatnya terasa berbeda.

Saya datang dengan perasaan sedang memperhatikan kehidupan seseorang.

Ternyata, setelah berbicara dengannya, saya justru merasa sedang diperhatikan kembali—bukan dengan mata, tetapi dengan cara yang lain.

Ia tidak bisa melihat dunia sebagaimana kita melihatnya.

Tetapi ia mungkin lebih terbiasa membaca manusia melalui suara, sikap, perhatian, dan cara seseorang memperlakukan dirinya.

Di situlah saya mulai memahami bahwa cerita tentang Wagimen sebenarnya bukan hanya tentang seorang tunanetra dan istrinya.

Bukan pula tentang rasa iba.

Sebab dari cara mereka menjalani hidup, tidak ada yang terasa meminta dikasihani.

Ada pasangan yang datang ke sentra kuliner, makan bersama, minum kopi, berbicara, sesekali tertawa, lalu pulang bersama.

Ada seorang istri yang tetap merawat dirinya dan bersolek, meski suaminya tidak dapat melihat penampilannya.

Ada seorang suami yang mungkin tidak dapat melihat wajah istrinya, tetapi tetap bisa mengenali kehangatan dari suara dan genggaman tangannya.

Dan ada sebuah kalimat sederhana dari Wagimen yang justru membuat saya membawa pulang sesuatu untuk diri sendiri:

“Kalau ingin besar, jadilah besar sekalian. Kalau merasa kecil, jadilah paling kecil sekalian.”

Mungkin kehidupan memang tidak selalu meminta kita untuk terlihat besar.

Kadang kita justru menjadi lebih berarti ketika mampu mengecilkan ego, menghargai orang lain, dan tidak merasa perlu berdiri lebih tinggi hanya agar orang lain terlihat lebih rendah.

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan Wagimen dan istrinya akan terus berjalan.

Saya juga tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa kebiasaan sederhana mereka telah memberi kesan kepada seseorang yang hanya kebetulan beberapa kali melihat mereka.

Namun sejak mengenal mereka, setiap kali melihat dua orang itu berjalan bersama, saya tidak lagi hanya melihat seorang lelaki yang dituntun istrinya.

Saya melihat dua manusia yang telah menemukan cara mereka sendiri untuk berjalan bersama.

Kadang mereka tersenyum.

Kadang tertawa.

Kadang hanya duduk menikmati kopi.

Dan ketika mereka harus berjalan pulang, sebuah tangan kembali menggenggam tangan yang lain.

Mungkin pada akhirnya, keharmonisan bukan tentang siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah.

Bukan pula tentang siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah.

Melainkan tentang dua orang yang tahu bagaimana menempatkan diri, saling menjaga, dan tetap berjalan bersama tanpa perlu membuktikan apa-apa kepada dunia.

Sebab ketika jalan di depan tidak dapat kita lihat, mungkin yang paling kita butuhkan bukan seseorang yang menjelaskan seluruh arah.

Cukup seseorang yang menggenggam tangan kita dan tetap berkata, meski tanpa suara:

“Mari, kita berjalan bersama.”