Apa Itu Klitih yang Marak di Yogyakarta hingga Tewaskan Siswa SMA? Ini Bedanya dengan Begal

Apa Itu Klitih yang Marak di Yogyakarta hingga Tewaskan Siswa SMA? Ini Bedanya dengan Begal

SURABAYAPOSTNEWS.COM – Fenomena klitih di Yogyakarta kembali marak hingga menelan korban jiwa, kali ini seorang siswa SMA berinisial D.

D (18) ditemukan dalam kondisi kepala berdarah di Jalan Gedongkuning, Yogyakarta, Senin (4/4/2022).

Menurut laporan polisi, D sedang keluar untuk sahur saat kejadian berlangsung. Nahas, nyawanya tak tertolong setelah dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian itu cukup viral di media sosial, seperti Twitter. Warganet menyebut D merupakan korban aksi klitih.

“Min dapat info ada yang kena Klitih deket Balai Banguntapan jln Gedongkuning,” tulis seorang warganet di Twitter.

Tak hanya itu, tagar #JogjaTidakAman dan #JogjaDaruratKlitih juga ramai digaungkan pengguna Twitter.

Warganet yang bukan berasal dari Yogyakarta atau Jawa mungkin tak mengenal istilah klitih. Berikut penjelasan arti klitih dan perbedaannya dengan begal.

Apa itu Klitih?

Secara bahasa, klitih merupakan berasal dari kata klitah-klitih yang bermakna jalan bolak-balik dalam bahasa Jawa. Klitah-klitih juga bisa diartikan sebagai mondar-mandir atau pontang-panting.

Sejatinya, klitih tidak memiliki makna negatif. Namun, sejak tahun 2000-an, klitih justru ditafsirkan sebagai kata yang menjurus pada kriminalitas.

Hal itu bermula dari geng-geng remaja anarkis yang marak di Yogyakarta pada 1990-an. Singkat cerita, setelah terbit peringatan dari Wali Kota Yogyakarta saat itu, sejumlah anggota geng “insyaf” dan kembali ke jalan yang benar.

Sisa anggota geng yang masih bertahan lantas melampiaskan gairah bertarung mereka di jalanan. Targetnya tak menentu, mereka mencari musuh secara acak, bisa siapapun tak pandang bulu dan usia.

Aksi tersebutlah yang merujuk pada istilah ‘klitih’ saat ini. Remaja yang melakukan aksi kriminal tersebut, bahkan membawa senjata tajam seperti rantai gir, parang, dan clurit untuk melukai korbannya.

Beda dengan Begal

Perbedaan mendasar klitih dan begal terletak pada tujuannya. Menurut sejumlah sumber, tak ada motif ekonomi di balik aksi klitih. Remaja yang ikut aksi tersebut dinilai sedang mencari jati diri demi diterima dalam kelompok tertentu.

Sebelumnya, klitih hanya menyerang musuh mereka. Namun, kini klitih justru menyerang siapapun yang mereka anggap musuh. Akibatnya, sejumlah masyarakat umum justru menjadi korbannya.

Sedangkan begal memiliki motif ekonomi di balik aksinya. Umumnya, begal akan merampas harta benda milik korban, baik perhiasan, handphone, bahkan kendaraan. Begal juga tak jarang melukai korban jika mereka melakukan perlawanan.

Meski memiliki tujuan berbeda, begal dan klitih tetaplah aksi kriminal yang menyalahi hukum. Aksi mereka mengancam dan melukai korban dengan senjata tajam menimbulkan rasa tak aman di masyarakat.