SurabayaPostNews – Strategy Inc., perusahaan yang agresif mengakumulasi Bitcoin, sahamnya telah anjlok ke titik terendah dalam 52 minggu terakhir.
Ironisnya, penurunan ini terjadi tepat setelah perusahaan mengumumkan kepemilikan kas sebesar USD 1,44 miliar. Pasar justru menilai kabar baik itu sebagai sinyal bahaya struktural.
Secara total, Strategy Inc. memegang lebih dari 650.000 Bitcoin, setara sekitar USD 55,9 miliar, angka yang jauh melampaui kapitalisasi pasarnya yang hanya USD 49,3 miliar. Kondisi ini membuat saham perusahaan diperdagangkan lebih murah dibanding nilai Bitcoin yang dimilikinya.
Selama empat tahun terakhir, Strategy membangun model pertumbuhan berbasis loop, menjual saham pada harga premium untuk membeli Bitcoin, dan kenaikan harga Bitcoin kembali mendongkrak saham. Namun ketika premi itu hilang, mekanisme berjalan terbalik—dan pasar mulai menghitung risikonya.
Situasi diperburuk oleh tenggat 15 Januari 2026, saat MSCI akan memutuskan apakah perusahaan dengan treasury Bitcoin layak tetap berada dalam indeks saham global.
JPMorgan memperkirakan potensi penjualan paksa sebesar USD 2,8 miliar jika Strategy dikeluarkan dari indeks. Bagi investor institusi, keputusan ini bersifat otomatis.
CEO Strategy secara terbuka mengakui bahwa penjualan Bitcoin kini “masuk dalam opsi” jika diskon saham terhadap nilai aset semakin melebar. Padahal, perusahaan memerlukan cadangan kas besar untuk menutup biaya dividen, utang preferen, dan operasi bisnis inti yang belum menghasilkan profit signifikan.*