Sign in
Sign in
Recover your password.
A password will be e-mailed to you.
Mereka bertiga bukan sekadar flexing. Mereka menjalankan bisnis emosional, menjual rasa rendah diri orang kecil, lalu menawarkan “obatnya” berupa kelas berbayar, komunitas VIP, dan mimpi cepat kaya lewat crypto atau trading.
Di tengah bull market 2021–2022, timeline kita dibanjiri video Timothy Ronald ngopi 80 ribu sambil ngejek orang kantoran, Gabriel Rey tolak Lamborghini 3 miliar biar klubnya eksklusif, dan Kalimasada pamer profit ratusan persen sambil bilang “steal from the market”.
Pesan tersiratnya selalu sama: kalau kamu masih miskin, itu karena kamu penakut, bodoh, dan nggak berani.
Setelah penonton merasa terhina, langkah berikutnya jualan solusi berupa kelas crypto 25–75 juta, grup private, mentorship, dan signal VIP.
Ribuan orang akhirnya bayar mahal demi masuk “inner circle orang kaya”.
Ketika market ambruk dan portofolio minus 70–90%, jawaban mereka selalu seragam: “Kalian nggak disiplin, nggak all-in, mental miskin.” Padahal isi kelasnya 90% mindset dan 10% TA dasar yang bisa didapat gratis dalam 30 menit di YouTube.
Yang paling berbahaya adalah menjual mimpi khas anak muda Indonesia: pengen cepat kaya tanpa kerja, pengen diakui tajir di kampung, pengen balas dendam sama hidup yang dulu susah.
Mimpi itu kemudian dijual dengan harga ratusan juta, sementara sumber pendapatan mereka sebenarnya dari fee kelas, referral exchange, dan (kemungkinan besar) pump coin kecil yang mereka pegang sendiri.
Bandingkan dengan Vitalik Buterin. Kekayaannya ribuan kali lipat lebih besar, tapi dia hidup sederhana, cuci baju tangan, bagi ilmu gratis lewat blog, dan nggak pernah jual kelas
Di sisi lain, ada Justin Sun (Tron) kekayaannya mencapai 140 triliun, beli pisang tape ratusan miliar cuma buat makan di depan kamera, dituduh manipulasi market oleh SEC, tapi tetap kaya karena jago jual kontroversi dan mimpi.
Gabriel Rey, Timothy Ronald, dan Kalimasada bukan mentor keuangan. Mereka content creator yang sangat berupaya memonetisasi insecurity orang lain.
Orang kaya nggak perlu pamer Lamborghini buat membuktikan mereka sukses.