SurabayaPostNews – Kalau ada yang bilang cinta itu buta, mungkin kisah ini adalah bukti paling konkret—buta, tuli, sekaligus tidak sempat baca dokumen.
Tokoh utama kita: Mbah Sakti. Seorang paranormal yang dikenal bisa “melihat yang tak terlihat”. Tapi kali ini, yang tak terlihat justru niat jahat di depan matanya sendiri.
Masuklah pasangan suami istri: Doni dan Rina. Hidup mereka lagi seret seperti rem blong di turunan. Tapi semesta seperti memberi jalan pintas—Rina punya rumah warisan dari pamannya. Nilainya? Rp1,65 miliar. Bukan angka receh.
Rumah dijual. Uang cair.
Di titik ini, hidup mereka harusnya naik level. Tapi yang terjadi justru… masuk ke babak yang lebih gelap.
Uang miliaran itu justru diserahkan ke Mbah Sakti untuk “diputar jadi bisnis”. Keputusan yang mungkin lahir bukan dari perhitungan, tapi dari rasa.
Ya, rasa itu ada.
Rina diam-diam jatuh hati pada Mbah Sakti. Dan anehnya, Sari, istri sah sang dukun, tahu semuanya… tapi memilih diam. Bukan karena tak sakit, tapi karena ada hal lain yang ikut berbicara: yakni uang.
Sari diberi modal 50 juta oleh Rina, asal bebas kencan dengan suaminya si mbah sakti.
Dari sini, cerita berubah dari drama jadi badai.
Pada awalnya Semua tampak seperti harmoni aneh: cinta berjalan, uang berputar, logika menghilang.
Lalu muncul satu nama yang jadi titik balik kehancuran: Bimo.
Makelar ini datang seperti penyelamat. Bicara rapi. Janji tinggi. Penampilan meyakinkan. Tapi di balik itu, tersimpan skenario yang pelan-pelan menggerogoti semuanya.
Bimo menawarkan rumah lelang murah. Katanya dari bank. Katanya kesempatan emas. Katanya harus cepat sebelum orang lain ambil.
Faktanya, Lelang resmi itu harus ada risalah dari KPKNL. Lebih mirip lelang versi halu tingkat tinggi.
Belum selesai.
Bimo juga menjual dua kapling tanah. Uangnya diterima tanpa ragu. Tapi surat Petok D? Tak pernah muncul. Seolah tanahnya ada… tapi legalitasnya hidup di dunia lain.
Di sinilah ledakan terjadi.
Rina mulai sadar. Uangnya menguap. Kepercayaannya runtuh. Cintanya goyah.
Mbah Sakti? Dari yang tadinya dielu-elukan, kini jadi sasaran kemarahan.
Hubungan yang dulu penuh bisik-bisik asmara berubah jadi suara tinggi penuh emosi.
Cinta berubah jadi konflik. Kepercayaan berubah jadi tuduhan.
Akhirnya, Mbah Sakti melapor ke polisi. Dalam kekacauan itu, muncul satu sosok penolong—Jinan—yang ia anggap seperti “malaikat di tengah reruntuhan”.
Tapi semua sudah terlambat.
Uang sudah terlanjur mengalir. Hubungan sudah terlanjur retak. Dan kepercayaan… sudah hancur berkeping-keping.
Ironi paling pahit?
Seorang yang mengaku bisa membaca masa depan… justru gagal membaca niat buruk di sekelilingnya.
Kalau cinta sudah campur uang tanpa batas,
yang tersisa bukan kebahagiaan…
tapi drama yang lebih mahal dari harga rumah itu sendiri.@ jn
Cerita diambil dari kisah nyata