Pakar IPA : Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan Risiko Banjir Berulang

Ketika hutan ditebang, daya serap tanah melemah. Air hujan tidak terserap, tetapi langsung mengalir ke sungai

SURABAYA (SurabayaPostNews) – Banjir yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa pekan terakhir bukan hanya dipicu curah hujan tinggi. Sejumlah catatan ilmiah menunjukkan kerusakan hutan menjadi faktor utama yang membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air.

Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMPTAG Surabaya, Ida Nursanti, menjelaskan bahwa hutan memiliki fungsi vital sebagai penyangga air. Akar-akar pohon bekerja seperti spons yang menjaga tanah tetap kuat dan mampu menahan aliran air.

“Ketika hutan ditebang, daya serap tanah melemah. Air hujan tidak terserap, tetapi langsung mengalir ke sungai,” jelas Ida. Kamis (12/12/25).

Sungai yang sudah penuh sedimentasi dan sampah akhirnya tidak mampu menampung debit air, sehingga banjir lebih mudah terjadi. Kondisi ini, kata Ida, menjadi siklus kerusakan yang saling memicu.

Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit turut memperparah risiko banjir. Ida menyebut akar serabut sawit tidak memiliki kekuatan mengikat tanah seperti akar pohon hutan.Sawit menyerap air dalam jumlah besar, tetapi tidak menyimpannya. Akibatnya, tanah di area perkebunan lebih mudah terkikis dan rentan longsor. “Secara ekologis, sawit tidak bisa menggantikan pohon hutan,” tegasnya.

Dampak lain dari hilangnya hutan adalah terganggunya habitat satwa liar. Ketika hutan menyusut, hewan-hewan kehilangan ruang hidup dan berpotensi masuk ke permukiman warga. Kasus kebun warga rusak atau satwa liar tersesat, menurut Ida, merupakan sinyal rusaknya keseimbangan ekosistem.

Ida juga menilai upaya edukasi lingkungan di kota masih menghadapi hambatan. Keterbatasan ruang terbuka membuat siswa sulit mengenal langsung struktur akar pohon besar atau ekosistem hutan.

Karena itu, ia mendorong siswa lebih memahami peran hutan melalui kebiasaan sederhana, seperti menghemat kertas, mengurangi penggunaan tisu, serta memahami bahwa setiap produk yang digunakan memiliki dampak ekologis.

Ida menegaskan bahwa mitigasi bencana banjir dapat dimulai dari rumah tangga. Masyarakat bisa memilah sampah, menjaga tanaman di lingkungan, tidak membuang sampah ke saluran air, hingga menghemat penggunaan air.

“Lingkungan tidak membutuhkan aksi besar, tetapi membutuhkan kesadaran dan konsistensi,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat dan pemerintah memperketat pengawasan terhadap penebangan liar serta lebih selektif dalam pengambilan keputusan alih fungsi lahan.

“Hutan adalah aset bumi yang tidak bisa diganti. Kerusakan hari ini akan menjadi beban besar bagi generasi berikutnya,” tutupnya.