SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2024 sebesar 3,96 persen atau sekitar 116,62 ribu jiwa. Penurunan ini kerap dijadikan indikator keberhasilan pembangunan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Namun, ukuran kemiskinan yang digunakan BPS masih belum mampu menggambarkan realitas kehidupan warga kota metropolitan seperti Surabaya.
BPS menetapkan garis kemiskinan Kota Surabaya sekitar Rp827 ribu per kapita per bulan. Dengan metode tersebut, sebuah keluarga beranggotakan empat orang akan dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluarannya berada di bawah sekitar Rp3,3 juta per bulan.
Secara statistik, keluarga yang memiliki pengeluaran Rp3,5 juta per bulan tidak lagi masuk kategori miskin. Namun dalam kehidupan sehari-hari, angka tersebut dinilai masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak di kota besar.
Kenaikan harga bahan pangan, biaya sewa rumah atau kos, listrik, air, transportasi, pendidikan anak, hingga kebutuhan internet membuat beban pengeluaran rumah tangga terus meningkat. Belum lagi jika keluarga harus menghadapi biaya kesehatan mendadak atau kehilangan pekerjaan.
Di sinilah kritik terhadap metode penghitungan kemiskinan mulai menguat.
Perlu dipahami, BPS tidak menghitung kemiskinan berdasarkan besarnya gaji atau pendapatan, melainkan menggunakan pendekatan pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar, yang terdiri dari kebutuhan makanan dan nonmakanan. Metode ini telah lama digunakan dan memiliki keunggulan untuk membandingkan kondisi kemiskinan dari waktu ke waktu secara konsisten.
Metode pendekatan tersebut lebih tepat menggambarkan kemiskinan absolut, yakni kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasar minimum agar tetap bertahan hidup, bukan untuk mengukur apakah seseorang telah mencapai tingkat kesejahteraan yang layak.
Akibatnya, terdapat kelompok masyarakat yang secara statistik tidak lagi tergolong miskin, tetapi dalam praktiknya masih hidup dengan kondisi ekonomi yang rapuh.
Kelompok ini sering disebut sebagai rentan miskin atau working poor, yakni mereka yang memiliki pekerjaan dan penghasilan, tetapi hampir seluruh pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan pokok sehingga tidak memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi pada pendidikan, atau menghadapi keadaan darurat.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di Surabaya sebagai kota metropolitan dengan biaya hidup yang relatif tinggi dibanding banyak daerah lain di Jawa Timur.
Karena itu, sejumlah negara mulai melengkapi pengukuran kemiskinan dengan indikator lain, seperti Living Wage (upah layak hidup) yang menghitung biaya hidup layak bagi pekerja dan keluarganya, Relative Poverty yang mengukur kemiskinan berdasarkan posisi pendapatan terhadap masyarakat secara umum, hingga Multidimensional Poverty Index (MPI) yang memasukkan aspek pendidikan, kesehatan, kualitas tempat tinggal, sanitasi, dan akses terhadap layanan dasar.
Pendekatan yang lebih komprehensif tersebut dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan.
Oleh sebab itu, penurunan angka kemiskinan tidak selalu berarti seluruh masyarakat telah menikmati kesejahteraan yang memadai.
Dalam konteks penyusunan kebijakan publik, pemerintah perlu berhati-hati membaca statistik. Keberhasilan menurunkan angka kemiskinan patut diapresiasi, tetapi perhatian tidak boleh berhenti pada persentase penduduk miskin semata.
Kelompok masyarakat yang berada sedikit di atas garis kemiskinan juga memerlukan perhatian karena mereka merupakan kelompok yang paling rentan terdampak inflasi, perlambatan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, maupun kenaikan harga kebutuhan pokok.
Pada akhirnya, angka statistik hanyalah alat ukur. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap keluarga tidak sekadar keluar dari kategori miskin menurut definisi statistik, tetapi benar-benar memiliki kemampuan untuk hidup layak, memperoleh pendidikan yang baik, mengakses layanan kesehatan, memiliki tempat tinggal yang memadai, serta menyongsong masa depan dengan rasa aman secara ekonomi.@