
SURABAYA (SurabayaPostNews) – Prodi Fashion Product Design & Business, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Ciputra, gelar pameran dan fashion show tugas akhir bertajuk “Fashionology” sepanjang akhir pekan, tanggal 2-4 Juni 2023.
Sebanyak 100 mahasiswa Semester 4, 6 dan 8 terlibat dalam acara Fashionology yang diselenggarakan di Ciputra World Surabaya. 46 Mahasiswa semester 8 terlibat dalam pameran dan peragaan busana yang menampilkan karya tugas akhir mereka. Sedangkan sebanyak 54 mahasiswa semester 4 dan 6 menjadi panitia penyelenggara dalam rangkaian acara yang terdiri dari pameran, peragaan busana, lomba fashion design dan beauty workshop.
Ratusan busana karya para mahasiswa tugas akhir dipajang dalam deretan booth di Linear Atrium Ciputra World Surabaya. Penataannya elegan dengan model yang beragam. Mulai dari gaun pesta, pakaian kerja, pakaian ready to wear, pakaian anak-anak hingga aksesoris.
Karya mahasiswa tugas akhir ini juga di tampilkan di pagelaran busana yang dibuka oleh ketua Dekranasda, Ibu Eri Cahyadi. Selain karya tugas akhir, pagelar busana juga menampilkan karya tugas mata kuliah Commercial Design yang dibuat oleh mahasiswa semester 4 dengan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya menggunakan batik Surabaya. Batik Surabaya ini adalah hasil dari UMKM pemerintah kota Surabaya.
Pagelaran busana kali ini mengusung beberapa isu penting, yaitu; masalah limbah di dunia fesyen, isu sosial mengenai gender equality, dan isu yang mengangkat konten lokal seperti wastra dan pelestarian budaya.
Yoanita Tahalele dan Enrico Ho, dosen pembimbing tugas akhir sekaligus pembimbing event mengatakan bahwa mahasiswa mengusung tema sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat dan merancang desain produk untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap masalah-masalah tersebut. Menurut Yoanita, ada 3 hal yang perlu diperhatikan mahasiswa.
“konsep desain yang dapat menjawab tantangan dan permasalah yang ada, kreativitas dan inovasi desain, serta sisi komersial atau bisnis dari produk yang diciptakan,” ujarnya.
Salah satu Mahasiswa, Audrey Gabriella mengangkat konsep sustainable fashion dengan memanfaatkan limbah kulit sisa produksi. Karya Audrey ini merupakan suatu upaya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh indstri kecil dan menengah dibidang aksesoris kulit atas limbah sisa produksi yang dihasilkan. Karya yang berjudul Rögn ini mengolah limbah leather dengan menggunakan teknik anyaman bermotif Houndstooth menjadi produk pakaian yang bernilai komersial tinggi.
Teknik anyaman ini dipilih karena bersifat timeless dan tahan lama. Ditambah lagi penggunaan material kulit dalam teknik anyaman ini dapat memanfaatkan material limbah dengan ukuran yang sangat kecil, sehingga diharapkan koleksi ini dapat menjadi solusi dalam pengurangan limbah kulit sisa produksi.
Sedangkan Elisabet Stefanny Witjahjo mengusung koleksi yang berjudul “Disruption” dengan konsep memanfaatkan limbah denim sisa produksi. Karya ini menggunakan limbah denim sebagai material utama yang diolah menjadi fabric manipulation sebagai pattern and detail menggunakan teknik weaving, pintuck, serta slashing cut. Dalam proses eksplorasi, didapatkan alternatif panel seperti Box Panel, Curves Panel, Princess Panel, Yoke Panel.
’’Dari konsep ini, saya memanfaatkan dan mengolah limbah denim menjadi produk yang memiliki nilai komersial tinggi,’’ ujar Stefanny.
Kain limbah denim yang digunakan Stefanny diambil dari kain sisa produksi dari indsutri gamen Triple Jeans. Koleksi ini nantinya dapat memberikan solusi bagi industri tekstil dalam mengolah limbah denim yang dihasilkan serta dapat memberikan awareness bagi masyarakat tentang konsep sustainable fashion.
Sementara itu, Karya Hillary Liem juga menjadi perhatian karena mengangkat konsep budaya, yaitu wayang. Menurut Hillary, perkembangan jaman dan arus globalisasi telah membuat generasi muda mulai melupakan kekayaan budaya Indonesia, salah satunya budaya Wayang.
Terinspirasi dari tokoh binatang pewayangan Sang Hyang Antaboga, Hillary menciptakan suatu koleksi busana pesta special occasion yang menggunakan teknik wearable sculpture. Dalam perancanganya, pada bagian kepala tokoh Antaboga yang berbentuk naga menggunakan mahkota dan hiasan telinga Wayang, digunakan teknik kerajinan besi filigree (filigrana) yaitu jalinan benang besi yang dibuat oleh pengrajin lokal dengan seratus persen buatan tangan.
Pada bagian badan dan ekor tokoh Antaboga digunakan manipulasi kain yang telah dilaser cutting membentuk sisik dan ekor, lalu dipasangkan satu per satu seolah-olah melilit badan penggunanya. Terdapat penambahan bordir yang membentuk selendang merah dan sayap yang menjadi ciri khas dari tokoh Sang Hyang Antaboga sendiri.
Karya Hillary ini ingin melestarikan budaya wayang Sang Hyang Antaboga yang telah dimodernisasikan, tetapi masih memiliki ciri khas budaya dari tokohnya.
Sedangkan Natasya Cornelia mengangkat masalah gender inequality, dimana Natsya mengemukakan, bahwa masyarakat dan budaya terkait dengan struktur seksualitas membawa beberapa peran termasuk stereotip gender yang berhubungan erat dengan penampilan.
“Stigma terhadap pria yang berbusana feminin masih kuat dan terkesan menyimpang dari norma budaya. Namun, semakin luasnya pergeseran budaya memberi lebih banyak kebebasan dalam hidup, salah satunya fashion kontemporer sebagai bentuk ekspresi diri yang tidak terikat dengan identitas gender,” Katanya.
Karya Natasya yang berjudul ‘Carte’ bergaya avant- garde yang kontemporer, dengan konsep merombak stereotip maskulinitas yang tradisional pada menswear. Koleksi berfilosofi untuk menghasilkan look yang high fashion dengan gaya berbusana rebel, kreatif, berani untuk mengekspresikan diri seperti pada selembar kertas kosong, dan untuk melihat fashion bukan sebagai gender tetapi ekspresi diri yang fluid.
Peleburan elemen desain maskulin dan feminin diterapkan ke dalam koleksi dari segi struktur potongan bahu busana tailored yang tegas, shape dan form yang organic, geometris, sculpture, dan fluid yang terinspirasi dari sebuah arsitektur paper sculpture “Tot in de Vezel,” fabric manipulation burnt, fabric painting, dan tekstur pleats terinspirasi dari unsur alam, prinsip desain draping dan cutting yang fluid, hingga material faux leather yang berkesan maskulin dan liquid organza berkesan anggun.
Semua aspek desain dalam perancangan dikombinasikan secara seimbang. Pendekatan ini tidak hanya mencakup teknik craftsmanship yang tinggi, tetapi juga sebagai demonstrasi pemikiran, pengalaman, persepsi, dan emosi individu. Hasil perancangan menerapkan konsep yang mampu menjawab permasalahan sosial, seperti kebebasan berekspresi, kepercayaan diri, kreativitas dalam berbusana.
Prodi Fashion Product Design & Business Universitas Ciputra membawa misi bahwa lulusan yang dihasilkan mampu menjadi venture creator serta value creator. “Kami berharap bahwa kami mampu mendidik Mahasiswa agar dapat menciptakan peluang usaha baru. serta menggunakan pola pikir wirausaha di dalam menciptakan suatu nilai dan makna dalam lingkungan kerja mereka kelak,’’ jelas Yoanita.