BALI – Bali Megarupa VIII, yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Seni Bali Jani 2026, mengusung tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi”, selaras dengan semangat “Kembara Sukma Atma Kerthi.” Pameran yang dikuratori oleh Wayan “Kun” Adnyana, Jeon Dongsu, dan Warih Wisatsana ini berlangsung pada 11–25 Juli 2026, sekaligus menegaskan posisi seni rupa modern-kontemporer Bali sebagai ruang eksplorasi intermedium dan kolaborasi lintas negara.
Sebanyak 83 seniman dari Indonesia, Korea Selatan, Prancis, dan Ukraina berpartisipasi melalui mekanisme undangan maupun open call. Dari 60 pendaftar open call, sebanyak 19 perupa terpilih ikut ambil bagian. Kehadiran seniman muda berusia 19 tahun hingga perupa senior kelahiran 1958 menunjukkan kesinambungan antargenerasi yang memperkuat ekosistem seni rupa kontemporer Bali.
Pameran menghadirkan 83 karya dalam beragam medium, meliputi lukisan, drawing, fotografi, keramik, patung, tekstil, instalasi, seni digital, tapestri, hingga printmaking. Keragaman medium tersebut mencerminkan dinamika seni rupa kontemporer yang mempertemukan tradisi, material baru, serta perkembangan teknologi digital.
Narasi artistik yang dihadirkan berakar pada mitologi dan spiritualitas Bali—seperti Atma Prasangsa, Bima Swarga, dan Lubdaka—seraya membuka ruang dialog mengenai isu lingkungan, kemanusiaan, dan identitas lintas budaya. Dalam konteks ini, Bali Megarupa VIII tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga manifestasi komitmen Pemerintah Provinsi Bali terhadap keberlanjutan seni rupa sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020.
Tradisi penciptaan ditempatkan sebagai proses yang hidup, senantiasa dibaca ulang dan diperbarui sesuai sensibilitas zaman. Sementara itu, eksplorasi material alternatif, pendekatan interdisipliner, dan pemanfaatan teknologi digital memperluas cakrawala seni rupa Bali dalam percakapan global. Dengan demikian, Bali Megarupa VIII menjadi ruang perjumpaan antara keberlanjutan tradisi, inovasi medium, serta dialog lintas generasi dan budaya.

Di antara para peserta, karya Ida Bagus Putra Adnyana menawarkan pembacaan menarik mengenai persilangan antara fotografi, seni grafis, dan praktik mixed media. Melalui karya berjudul Wild Light, fotografi tidak diperlakukan sebagai medium yang selesai pada tahap pencetakan. Sebaliknya, citra fotografis dijadikan titik awal yang kemudian diintervensi, ditafsirkan ulang, dan dibangun kembali melalui tindakan artistik yang bersifat manual maupun material.
Fotografi digital yang dicetak diperkaya dengan teknik hand colouring menggunakan cat akrilik serta kolase dari potongan koran bekas. Sapuan warna yang diaplikasikan secara manual menghadirkan dimensi ekspresif yang menggeser fungsi fotografi dari sekadar medium dokumentatif menuju pengalaman visual yang lebih personal dan interpretatif. Sementara itu, unsur kolase memperluas ruang pembacaan karya ke ranah sosial, kultural, dan historis, menjadikan Wild Light bukan sekadar representasi visual, melainkan medan dialog antara citra, ingatan, material, dan realitas yang terus berubah.