Denpasar – Seniman IB Putra Adnyana (Gustra) tampil dalam dua pameran seni rupa penting pada Agustus 2025. Pameran pertama adalah Bali Megarupa, bagian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII, yang menjadi ruang eksplorasi seni rupa modern dan kontemporer lintas medium.
Menurut Gustra, melalui tajuk Kara–Bhuwana–Kala, para seniman tidak hanya merepresentasikan ide, melainkan juga menghadirkan narasi visual personal. “Ini adalah ruang pencarian, pemaknaan, sekaligus perayaan semesta rupa di tengah dinamika cipta hari ini,” ungkapnya.
Selain Bali Megarupa, Gustra juga ambil bagian dalam pameran internasional bertema Pram–Bhuwana–Patra, yang melibatkan 63 seniman dari Indonesia dan mancanegara.
Pameran ini digelar untuk memperingati 100 tahun sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.
Peresmian berlangsung bersamaan dengan pembukaan FSBJ VII 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali pada 19 Juli 2025. Pameran ini dikuratori oleh Prof. Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana, Prof. Dr. I Ketut Muka, serta Jeon Dongsu.
Triangle Vision di FSBJ VII

Dalam pameran FSBJ VII, Gustra menghadirkan karya berjudul “Triangle Vision”. Karya ini dieksplorasi melalui pendekatan post-photography, di mana fotografi tidak berhenti sebagai representasi visual, melainkan menjadi medan eksperimentasi antara kenangan, gestur tubuh, dan benda-benda terlupakan.
“Cetakan di atas kanvas mereposisi fotografi dari medium dokumenter menjadi permukaan hidup—kanvas yang menyimpan denyut waktu dan perasaan,” jelas Gustra.
Ia menambahkan, tetesan dan siraman cat minyak yang spontan tanpa kuas bukan sekadar dekorasi, melainkan ledakan spontanitas, trauma yang tak tertutur, sekaligus afirmasi keberadaan.
“Warna menjadi bahasa tubuh, bukan ilustrasi. Setiap garis liar dan noda tak sengaja merepresentasikan gestur: yang resah, yang mencipta, yang mengganggu batas antara kehendak dan kebetulan,” katanya.
Bagi Gustra, benda temuan dan readymade yang menyertai instalasi ini juga memiliki peran penting.
“Mereka adalah saksi bisu—pernah berguna, lalu terbuang, kini terangkat kembali sebagai simbol sejarah material. Teksturnya tak bisa direproduksi kamera, dan justru dari situ lahirlah keretakan narasi yang produktif: realitas yang tidak lagi linier, tetapi terjalin dari serpihan,” ujarnya.
Captain Manus Sia-sia di Pram–Bhuwana–Patra

Dalam pameran Pram–Bhuwana–Patra, Gustra menampilkan karya mixmedia berjudul “Captain Manus Sia-sia”. Karya ini merupakan refleksi atas trauma dan kerapuhan manusia dalam menghadapi realitas politik dan sosial.
“Peristiwa traumatik sering menimbulkan luka batin yang mencerminkan kerapuhan manusia, terutama bagi mereka yang tidak memahami dunia politik. Kerapuhan dan trauma menjadi simbol sisi paling manusiawi yang terbentuk dari kekerasan, kehilangan, dan tekanan ekstrem,” tutur Gustra.
Secara artistik, karya tersebut diwujudkan melalui post-photography, pewarnaan tangan, dan spray paint, dilengkapi objek temuan serta ready-made. Sosok perempuan difoto sebagai lambang kemanusiaan dan Ibu Pertiwi, sementara boneka dan peralatan pertukangan digunakan sebagai metafora konflik ideologi.
“Objek itu mewakili kondisi masyarakat awam yang sering menjadi korban, tanpa memahami situasi,” jelasnya.
Gustra menegaskan bahwa karya-karya dalam pameran ini mengartikulasikan narasi lintas medium tentang bumi sebagai ruang hidup bersama, dan manusia sebagai subjek sejarah sekaligus saksi zaman.
“Melalui ekspresi visual kontemporer, desain konseptual, dan interpretasi personal, pameran ini membentuk jembatan temporal untuk merenungkan kondisi kemanusiaan dan jiwa zaman,” pungkasnya.@ *