Beberapa bulan terakhir, rupiah tercatat sebagai mata uang Asia dengan apresiasi tertinggi terhadap dolar AS, yakni sekitar 1,84% sejak Mei 2025.
Sekilas ini memberi kesan rupiah mulai bangkit. Namun jika ditarik ke horizon yang lebih panjang, penguatan tersebut justru menegaskan satu hal: rupiah hanya pulih dari posisi terlemah di kawasan ASEAN.
Sejarah panjang rupiah penuh dengan episode pelemahan tajam. Pada krisis finansial Asia 1997–1998, rupiah runtuh lebih dari 600% terhadap dolar, terburuk di kawasan.
Sebagai perbandingan, ringgit Malaysia hanya melemah sekitar 90% dan baht Thailand 60%.
Memasuki dekade 2010-an, tren serupa berulang. Sejak 2011 hingga 2020, rupiah kembali kehilangan hampir 50% nilainya, tertekan oleh defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada modal asing jangka pendek. Mata uang lain seperti baht dan dolar Singapura justru relatif stabil.
April 2025, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, posisi terlemah sejak krisis 1998.
Laporan IDN Financials mencatat rupiah memimpin penguatan di Asia pada Mei 2025, mengungguli dolar Singapura (+1,39%) dan yuan Tiongkok (+1,19%). Namun analis menilai euforia ini harus dibaca hati-hati.
Penguatan rupiah bukan sinyal fundamental membaik, melainkan rebound teknis setelah tertekan sangat dalam. Basisnya dari titik terendah, sehingga persentase kenaikan terlihat besar.
Fakta ini kontras dengan baht Thailand yang tetap stabil di kisaran 33–36 per dolar, atau dolar Singapura yang konsisten menjaga daya belinya lewat kebijakan moneter ketat dan kredibilitas fiskal.
Studi akademik mengenai krisis COVID-19 bahkan menunjukkan rupiah adalah mata uang yang pertama kali bereaksi terhadap guncangan global. Pelemahan rupiah lalu menular ke ringgit dan baht, sementara peso Filipina relatif lebih tahan dalam jangka panjang.
Ringgit Malaysia sempat menguat signifikan setelah melepas kurs tetap pada 2005, sementara baht Thailand menjaga stabilitas melalui cadangan devisa yang kuat.
Dolar Singapura bahkan sering dijadikan tolok ukur stabilitas moneter kawasan.
Rupiah berbeda: setiap krisis global hampir selalu menjadikannya mata uang paling terpukul di ASEAN.
Apresiasi rupiah dalam beberapa bulan terakhir memang patut diapresiasi sebagai tanda stabilitas jangka pendek. Namun, jika ditarik garis panjang, rupiah masih berada di peringkat bawah dibanding mata uang ASEAN lain.
Hingga saat ini Pemerintah belum ada reformasi struktural untuk membuat rupiah benar-benar kuat, bukan hanya sekadar “mata uang terburuk yang sedang rebound”