“Let us build the world anew!” – Sukarno, PBB 1960
Di tengah pusaran Perang Dingin dan cengkeraman imperialis yang membelenggu separuh dunia, Presiden Sukarno tidak hanya berdiri sebagai pemimpin negara berkembang (Asia-Afrika), tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap ketimpangan global yang disponsori Barat dan Uni Soviet.
Di PBB tahun 1960, ia menggugat tatanan internasional yang cacat, satu dunia yang didikte oleh kekuatan nuklir, dikendalikan oleh kekuatan modal, dan disorot oleh sinar ilusi damai yang sebenarnya tak pernah ada bagi dunia ketiga.
Bagi Sukarno, PBB bukanlah wadah kesetaraan. Itu hanyalah forum elite di mana veto menjadi senjata, dan suara negara kecil adalah formalitas kosong. Maka, keluar dari PBB bukan semata aksi diplomatik, tapi pernyataan ideologis: “Dunia tidak akan berubah kecuali kita menolak norma-norma yang membuat kita terus dijajah”
CONEFO: Mimpi, atau Cikal Perlawanan Blok Selatan
Konferensi of the New Emerging Forces (CONEFO) lahir dari rahim amarah. Sukarno tahu bahwa kemerdekaan politik tanpa kedaulatan ekonomi adalah palsu. Dunia ketiga, atau yang dia sebut “New Emerging Forces, tidak bisa terus-menerus menjadi penonton dalam sejarah yang ditulis oleh para penjajah. Maka, CONEFO digagas sebagai wadah alternatif, bukan hanya tandingan PBB, tapi sebagai benih peradaban baru.
CONEFO menolak kapitalisme predator dan komunisme yang elitis. Ia menawarkan kerangka baru: solidaritas antarbangsa, bukan eksploitasi antarbangsa. Ia bicara tentang kemerdekaan ekonomi, teknologi untuk rakyat, dan tatanan dunia yang tak dikendalikan dari Wall Street maupun Kremlin.
Tapi CONEFO bukanlah proyek “netral”. Ia adalah gestur anarkis terhadap sistem global; ia adalah manifestasi mimpi sosialis universal tanpa harus menjadi satelit ideologi mana pun.
Reaksi Dunia
Respons dunia? Dingin. Blok Barat mencibir. Blok Timur pura-pura mendukung. Negara-negara berkembang terjebak dalam dilema—antara semangat Sukarno dan realitas diplomatik.
Amerika mengintensifkan tekanan, sementara elite di dalam negeri mulai khawatir, “Sukarno bukan lagi hanya presiden, ia sedang menjadi revolusi itu sendiri”
Setelah 1965, impian itu dihancurkan oleh konspirasi berdarah yang mengorbankan jutaan nyawa (G 30 S) . CONEFO ditinggalkan sebelum lahir. Tapi jejaknya abadi—di semangat Non-Blok, di mimpi Global South hari ini yang masih mencari ruang bernafas.
Dalam era yang semakin dikendalikan oleh algoritma kapital dan militerisasi global, gagasan Sukarno soal dunia baru kembali relevan. Ia bukan romantisme masa lalu, tapi undangan untuk berpikir radikal. “Apa gunanya kemerdekaan jika sistem dunia masih memaksa kita tunduk”
Seperti yang dikatakan Sukarno: Revolusi belum selesai. Dan mungkin, tak akan pernah selesai—selama dunia masih dibagi antara mereka yang berkuasa dan mereka yang dilupakan.