Benjamin R. Tucker yang dikenal sebagai pewaris mutualisme Proudhon, sepanjang karier intelektualnya ia juga terpengaruh oleh filsuf radikal Jerman, Max Stirner, dengan bukunya The Ego and Its Own (1844).
Di sinilah menariknya Tucker, ia tidak berhenti sebagai mutualis, melainkan mencoba menggabungkan prinsip timbal-balik dan keadilan dari Proudhon dengan egoisme ekstrem dari Stirner.
Mutualisme Proudhon (1809–1865) menekankan hubungan sosial berdasarkan timbal-balik (mutuality), hak milik berbasis penggunaan, serta pasar bebas tanpa monopoli.
Tucker mewarisi pandangan ini dan menulis di majalah Liberty
“Anarchism is the logical carrying out of the doctrine that labor is the true measure of price.”(Anarkisme adalah kelanjutan logis dari doktrin bahwa kerja adalah ukuran sejati dari harga.)“
Dalam kerangka ini, Tucker mendukung sistem ekonomi di mana kontrak bebas menjamin keadilan, dan monopoli negara dihapuskan.
Namun Tucker tidak berhenti pada Proudhon. Ketika membaca Stirner, ia menemukan dimensi baru: “individu sebagai pusat segalanya, tanpa otoritas moral eksternal”.
Stirner menolak semua “hantu” (spooks) — konsep abstrak seperti “masyarakat”, “kebaikan umum”, bahkan “hak” — yang dianggap membelenggu individu. Yang nyata hanyalah ego dan kekuatannya.
Tucker menggemakan gagasan “The right of property rests, not on labor, but on contract. (Hak milik tidak berdasar pada kerja, melainkan pada kontrak)”
Klaim Tucker ini memperlihatkan pergeseran pemikiran dari mutualisme murni (hak milik = kerja) ke egoisme (hak milik = apa yang disepakati individu-individu secara sukarela).
Bagi Tucker, Stirner dan Proudhon bukanlah musuh, melainkan dua sisi dari kebebasan.
Dari Proudhon, ia mengambil ide gagasan struktur ekonomi timbal-balik, sebagai kerangka untuk masyarakat yang adil. Sedangkan dari Stirner, ia mengadopsi filsafat individu absolut, sebagai fondasi moral anarkisme.
Dengan demikian, Tucker melahirkan semacam mutualisme egois, pasar bebas tanpa monopoli, tapi dengan pengakuan bahwa kontrak sukarela antar-individu adalah otoritas tertinggi, bukan “hak-hak alamiah” atau “kebaikan bersama”.
Pergeseran Tucker ke egoisme membuatnya ditentang oleh sebagian anarkis lain, terutama yang masih setia pada doktrin Proudhon atau yang menganut komunisme Kropotkin.
Kaum komunis menuduh Tucker mengkhianati semangat kolektivitas, sementara sebagian mutualis merasa ia terlalu ekstrem. Namun bagi Tucker, konsistensi terhadap kebebasan individu jauh lebih penting daripada kesetiaan pada satu aliran.
“The Anarchist recognizes no duty to anything outside himself.” (Seorang anarkis tidak mengakui kewajiban kepada apa pun di luar dirinya sendiri) “
Tucker seolah menunjukkan bahwa anarkisme individualis bukanlah dogma tunggal. Ia bisa berubah, berkembang, dan menyerap unsur baru tanpa kehilangan inti gagasan yakni kebebasan individu.
Dari Proudhon → ia mewarisi “ekonomi keadilan” dan dari Stirner → ia menyerap “filsafat egoisme”.
Sementara Dari dirinya sendiri → ia merumuskan “anarkisme individualis libertarian” yang unik di Amerika.