Gerakan Kolektif 25 Agustus Gedung DPR RI, Rakyat Sudah Jengah

Ribuan masa mulai pelajar STM, buruh, pengemudi ojek online, hingga rakyat mengalir ke jalanan menuju Gedung DPR/MPR RI, Senayan. 25 Agustus 2025.

Bendera Merah Putih berkibar dan poster bertuliskan “Bubarkan DPR Beban Negara,” massa menamakan aksi ini “Revolusi Rakyat Indonesia” sebuah seruan untuk membongkar tatanan yang sudah mapan.

Pukul 09:30 WIB, gerbang DPR sudah dipenuhi tubuh-tubuh muda yang penuh semangat. Pelajar STM dengan seragam berdiri berdampingan dengan para Ojol yang membawa spanduk. Mereka bernyanyi, berorasi, dan mengibarkan lagu-lagu perjuangan, seolah-olah jalanan adalah medan pertempuran.

Tuntutan mereka jelas: bubarkan DPR, tolak kenaikan tunjangan rumah DPR sebesar Rp50 juta, serta pernyataan kontroversial Fadli Zon soal pemerkosaan massal 1998. Di tengah orasi, hujan mulai turun.

Namun, ketegangan mulai merayap. Sekitar pukul 12:05 WIB, di dekat Restoran Pulau Dua, pelajar yang berusaha bergabung diadang aparat.

Botol air, batu, dan bambu runcing melayang ke arah barikade polisi. Water cannon dan gas air mata menjadi jawaban aparat. Asap putih menyelimuti Senayan Park, memaksa massa mundur, tetapi hanya sementara. Jalanan seolah menjadi medan perang urban: massa menyerang, polisi membalas.

Pukul 13:00 WIB, tol dalam kota di Jalan Gatot Subroto dikuasai massa. Kemacetan melumpuhkan arteri kota. Mahasiswa tiba dengan bus dan angkot, menyanyikan “Buruh Tani” dan mengobarkan semangat. Mereka mendorong massa kembali ke gerbang DPR, menantang barikade beton setinggi 1,8 meter dan pagar besi yang licin oleh oli. Di tengah chaos, ada keindahan: solidaritas lintas kelas, dari pelajar hingga buruh, bersatu dalam kemarahan kolektif.

Kericuhan pecah lagi di Senayan Park. Gas air mata menyengat, petasan meledak, dan kayu-kayu beterbangan. Dua pelajar terluka—satu di kepala, satu di kaki—dieevakuasi oleh TNI di tengah kepanikan.

Ada desas-desus tentang kendaraan yang dibakar, meskipun bayang-bayang informasi itu masih kabur, seperti asap gas air mata yang menyelimuti Slipi.

Hujan deras tak menghentikan langkah. Menjelang pukul 17:35 WIB, puluhan pelajar STM kembali menerobos menuju DPR. Di kolong bundaran Slipi, pertempuran berlanjut.

Massa melempar batu dan petasan, polisi membalas dengan gas air mata.

Jalan Gatot Subroto macet total, dan GBK ditutup. Di tengah chaos, seorang jurnalis foto ANTARA dilaporkan dipukul oknum polisi, hingga kameranya rusak—

Aksi ini misterius. Tidak ada organisasi resmi yang mengklaim sebagai inisiator. Narasi “Revolusi Rakyat Indonesia” menyebar melalui X dan WhatsApp, seperti api yang menyala sendiri di antara jerami kering.

BEM SI Kerakyatan dan KSPSI menyangkal keterlibatan, menolak ambil bagian sejarah. Sementara Partai Buruh berencana demo pada 28 Agustus. Ini adalah gerakan tanpa wajah, seolah didorong oleh kemarahan rakyat yang tak lagi percaya pada sistem.

Di sisi lain, aparat berdiri tegak dengan 1.250 personel gabungan Polri, TNI, dan Pemda DKI. Barikade beton, pagar besi, dan oli menjadi simbol pembatas antara negara dan rakyat.

Water cannon dan gas air mata adalah senjata andalan untuk memukul mundur pendemo.

Rakyat telah jengah dengan kemewahan yang diumbar olrh para pejabat, korupsi, moral buruk, joget joget di ruang Parlemen, sementara mereka kesulitan berjuang untuk sepiring nasi.

Dari pelajar yang mempertaruhkan masa depan, buruh yang menuntut keadilan, hingga ojol yang lelah dengan ketidakpastian, mereka adalah wajah masa perlawanan.

Jakarta, 25 Agustus 2025, adalah pengingat: ketika rakyat bersatu, jalanan akan menjadi milik mereka.