Anarkisme modern sering dicap cuma teori keren penuh retorika di buku-buku filsuf kayak Mikhail Bakunin dan Peter Kropotkin. Susah jalan di dunia nyata. Penyebabnya, karena nggak ada mediator terpercaya yang bisa nyelesain konflik tanpa ribet.
Tapi, Nusantara bahkan sebelum Bakunin atau kropotkin lahir sudah ada gotong royong dan musyawaroh! Tradisi ini memiliki semangat anarkis yang hidup tanpa perlu buku tebal atau seminar dan jujur, bakal bikin ide Bakunin sama Kropotkin kelihatan kayak anak kemarin sore.
Dengan sentuhan budaya lokal, Indonesia nunjukin bahwa anarkisme nggak cuma mimpi, gotong royong itu kayak anarkisme versi kampung, tapi lebih seru karena ada teh manis di sela-sela kerja.
Bayangin, warga desa pada kumpul bantu bikin rumah tetangga—nggak ada yang nyuruh, nggak ada kontrak, tapi rumah berdiri kokoh. Atau pas bencana, orang-orang langsung gerak: bagi-bagi makanan, beresin puing, tanpa nunggu perintah dari atas.
Ini mirip banget sama gagasan “mutual aid” yang Kropotkin omongin, cuma di Indonesia lebih hidup dengan obrolan santai dan semangat kebersamaan. Dari “tepo seliro” di Jawa, “bale bantu” di Bali, sampai “mapalus” di Minahasa, gotong royong nunjukin bahwa komunitas bisa jalan tanpa bos-bos ribet.
Nggak perlu hierarki, cukup rasa “sungkan” kalau nggak ikut bantu. Ini bukti bahwa anarkisme bukan cuma teori, tapi udah jadi bagian hidup orang kampung sejak dulu.
Anarkisme modern sering mentok pas ada konflik, soalnya nggak punya mediator yang semua orang respect. Nah, warga kampung punya musyawarah—cara cerdas buat nyelesain drama tanpa polisi atau pengadilan.
Di desa nisalnya, kalau ada isu soal sengketa lahan desa, kumpul kebo, atau pencuri bebek, warga duduk bareng di balai desa, ngobrol sambil nyeruput kopi, dan cari solusi yang bikin semua pihak senyum.
Pak RT atau tokoh adat kadang jadi penutup, tapi mereka bukan bos—cuma figur yang dipercaya komunitas.
Musyawarah ini anarkis banget: nggak ada otoritas yang maksa, cuma dialog terbuka buat nemuin jalan tengah. Ini nunjukin bahwa Indonesia punya cara sendiri buat ngatasin konflik, tanpa perlu hierarki kaku.
Gotong royong dan musyawarah adalah bukti bahwa warga Kampung punya jiwa anarkis yang nggak kalah sama ide-ide Bakunin atau Kropotkin.
Bakunin ngomongin revolusi buat ngehapus negara, Kropotkin ngomongin saling bantu biar komunitas kuat—tapi orang kampung udah lakuin itu sejak lama tanpa pake istilah ribet.
Budaya lokal kayak “tepo seliro” atau “mapalus” jadi perekat yang bikin komunitas jalan sendiri, tanpa perlu pejabat atau aturan formal.
Seandainya Bakunin dan Kropotkin main ke kampung di Indonesia, mungkin mereka bakal bilang, “Wah, kita ketinggalan jauh sama cara orang sini ngatur hidup!”
Tradisi ini nunjukin bahwa anarkisme nggak harus penuh teori retorika, cukup pake nilai budaya dan semangat kebersamaan, komunitas bisa kuat dan adil.
Sayangnya, Gotong royong dan musyawarah mulai pudar di kota besar. Orang lebih individualis, dan lebih percaya ke pengadilan atau Polisi buat nyelesain masalah.
Anarkisme modern juga susah di implementasikan karena nggak punya nilai bareng yang kuat.
Gotong royong bisa hidup lagi lewat gerakan komunitas, kayak bagi-bagi makanan gratis atau proyek lingkungan bareng-bareng (kerja bakti). Dengan cara ini, semangat anarkis Indonesia bisa tetep ngehits di zaman sekarang.
Gotong royong dan musyawarah adalah bukti bahwa Indonesia punya cara sendiri buat bikin anarkisme hidup, bukan cuma teori.
Tradisi ini nunjukin bahwa komunitas bisa jalan tanpa hierarki, asal ada semangat saling bantu dan cara nyelesain konflik yang santai tapi adil. Nggak perlu mediator besar, cukup budaya lokal dan kebersamaan yang bikin semuanya nyambung.
Jadi, Bakunin dan Kropotkin, kalian boleh catet: Indonesia udah bikin anarkisme jadi cara hidup yang bikin dunia iri!
Penulis adalah orang desa yang sering nongkrong & ngopi di warung Pojokan