SURABAYAPOSTNEWS.COM – Keteladanan dari seorang Sukarno membekas begitu dalam dan tertanam kuat pada diri Musa Gashimovich, Ketua Kelompok Tani (Kolkhoz) asal Dagestan.
Dari laman Rusia Byond menerangkan, Meski tak berkenalan secara langsung, sosok Sukarno ia kenal saat mengikuti sidang Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet di Kremlin, Moskow, pada Juni 1961. Selain dihadiri berbagai kalangan dan tokoh dari seantero Negeri Beruang Merah, pertemuan itu juga dihadiri beberapa pimpinan berbagai negara, termasuk Sukarno.
Tengah hari, ketika sidang masih berlangsung, Sukarno tiba-tiba berdiri dan meminta izin meninggalkan ruangan kepada Sekjen Partai Komunis Nikita Khrushchev untuk melaksanakan salat Zuhur.
Nikita pun mempersilahkan Sukarno meninggalkan ruangan. Hal itu membuat Musa terkejut dan seolah tak percaya akan apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri—bagaimana bisa seseorang diperbolehkan beribadah, sementara segala kegiatan beragama merupakan hal terlarang pada zaman Soviet. Jika pun ada, dilakukan secara diam-diam dengan resiko yang tak ringan jika tertangkap basah.
Dari situlah kekaguman Musa terhadap Sukarno mulai tumbuh dan mengakar.
Setahun kemudian istri Musa melahirkan seorang putera, dan dengan bekal kekaguman yang ia bawa dari ibu kota, ia pun dengan bangga menyematkan nama Sukarno Musaevich (Sukarno bin Musa) kepada sang putra — Ayah Kamil.
Musa sempat menulis surat kepada Kedutaan Besar RI Moskow untuk meminta izin menggunakan nama sang presiden, tetapi tak pernah mendapat balasan. Keajaiban yang disaksikan Musa di Kremlin kemungkinan diceritakan turun-temurun di lingkungan keluarganya sehingga kini nama Sukarno masih tersemat pada sang cicit.
Menurut Wahid, nama Sukarno masih banyak dikenal oleh generasi tua hingga saat ini, terutama di kota-kota yang pernah dikunjungi Presiden Sukarno seperti di Moskow, Saint Petersburg, Yekaterinburg, Sochi dan Samarkand yang kini merupakan wilayah Uzbekistan.
Di Moskow, Sukarno mengunjungi Masjid Agung yang saat itu masih sangat kecil dan fotonya masih tersimpan di salah satu masjid terbesar di Rusia dan di Eropa itu. Di Dalam kunjungannya pada 1956 di Leningrad— kini Sankt Peterburg, Sukarno meminta Nikita Khrushchev agar mengizinkan Masjid Biru yang saat itu difungsikan sebagai gudang dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam.
Khrushchev pun mengizinkannya masjid itu kembali dibuka sepuluh hari setelah kunjungan Sukarno.
Imam Masjid Biru Cafer Nasibullahoglu pun mengakui jasa Sukarno itu.
Wahid juga menyinggung cerita tentang makam Imam Bukhari. Walaupun tidak ada sumber sejarah resmi, menurutnya masyarakat Samarkand sampai saat ini meyakini bahwa makam Imam Bukhari dibangun oleh Uni Soviet atas pengaruh Sukarno.
Wahid menambahkan, penemuan makam Imam Bukhari konon menjadi syarat kesediaan Sukarno memenuhi undangan Khruschev ke Soviet. Khruschev pun memenuhinya sehingga Sukarno dapat mengunjungi makam tersebut dengan perjalanan kereta api yang ditempuh sekitar 3 hari dalam rangkaian kunjungannya pertamanya di Soviet.