Perluas Layanan Kesehatan, RSUP Kemenkes Surabaya Jalin Kerjasama Nayaka Era Husada Surabaya

RSUP Kemenkes Surabaya merupakan rumah sakit pemerintah pertama yang menjalin kerja sama langsung dengan BPJS Ketenagakerjaan. Dari sana kemudian berkembang kolaborasi dengan berbagai mitra layanan kesehatan, termasuk Nayaka Era Husada

SURABAYA (SurabayaPostNews)  – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kementerian Kesehatan Surabaya  melakukan kerjasama dengan PT Nayaka Era Husada Surabaya. Kerja sama ini untuk memberikan kemudahan akses layanan rujukan rumah sakit bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Pelaksana Harian Direktur Utama RSUP Kemenkes Surabaya, dr. Martha Siahaan, SH, MARS, MHKes, mengatakan Skema ini memungkinkan peserta memperoleh layanan kesehatan komprehensif dengan standar internasional, namun tetap mengikuti tarif yang ditetapkan pemerintah.

“RSUP Kemenkes Surabaya merupakan rumah sakit pemerintah pertama yang menjalin kerja sama langsung dengan BPJS Ketenagakerjaan. Dari sana kemudian berkembang kolaborasi dengan berbagai mitra layanan kesehatan, termasuk Nayaka Era Husada,” katanya.

Menurutnya, Kemenkes Surabaya telah bekerja sama dengan puluhan perusahaan asuransi dan penjamin kesehatan. Termasuk di dalamnya pegawai BPJS Ketenagakerjaan yang menggunakan layanan Nayaka Era Husada.

“Harapan kami, kerja sama ini bisa semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan benar-benar memberikan manfaat seluas-luasnya,” katanya.

Dalam praktik pelayanan medis, RS Kemenkes Surabaya juga mengedepankan penanganan non-operatif terlebih dahulu.

“Kami selalu mengusahakan fisioterapi dulu, bila memang masih memungkinkan,” tambahnya

Dia juga menegaskan kualitas sumber daya manusia di RSUP Kemenkes salah satu yang terbaik dan sangat kompentesi di bidangnya.

“Dokter-dokter Indonesia itu hebat – hebat. Kami akan terus menginformasikan kepada masyarakat tentang kompetensi dokter di RS Kemenkes,” ujarnya.

Lanjutnya, jumlah peserta yang cukup besar di Jawa Timur, RSUP Kemenkes Surabaya menyatakan kesiapan memberikan layanan medis secara menyeluruh.

“Seluruh layanan dapat kami berikan, mulai dari pelayanan dasar hingga layanan unggulan seperti PET Scan dan radioterapi,” katanya.

Sementara itu, Acara juga menghadirkan heathtalk update management spine bersama dr. Alan Anderson, M.sc, Sp.Rad dan dr. Asadullah,SpBS dokter bedah saraf Kasus HNPi RS Kemenkes Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut dr. Asadullah,SpBS menyampaikan, Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal sebagai “sakit pinggang” ata saraf kejepit tidak selalu harus dioperasi. Banyak kasus HNP yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif. Dan usia 65 ke atas sudah bisa dipastikan kena kasus HNP dengan kadar yang berbeda tiap orang dan tidak meski menyebabkan tidak bisa jalan, melainkan hanya anyeri-nyeri pinggang yang hilang muncul.

“Stigma kebanyakan yang beredar di masyarakat bahwa HNP harus operasi, namun tidak demikian adanya,  kasus HNP tiap orang berbeda kasusnya dan banyak jenisnya, tidak bisa disamaratakan tiap orang. Meski sebagai dokter bedah saraf, tidak meski dalam menangani HNP harus operasi. Kalaupun operasi, kita usahakan minimal invasif dan sayatan didukung peralatan memadai bisa dilakukan dengan tepat sesuai kebutuhan,” ucapnya.

Menurut dr. Asadullah,SpBS sebelum melakukan tindakan operasi, beberapa rangkaian yang bisa dilakukan yakni dengan terapi fisik fisioterapi untuk memperkuat otot punggung dan meningkatkan fleksibilitas. Juga obat anti-inflamasi, obat penghilang nyeri, dan relaksan otot, injeksi untuk mengurangi peradangan dan nyeri, terapi manual pijat, akupunktur, dan manipulasi spinal.

“Operasi hanya diperlukan jika nyeri yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan konservatif selama dua minggu. Kehilangan kontrol sfinkter, kehilangan kontrol sfinkter anus atau kandung kemih dan kondisi darurat seperti kompresi spinal atau infeksi.”

Selain itu, dr. Alan Anderson, M.Sc, Sp.Rad menambahkan, peran penting radiologi dalam penegakan diagnosis kelainan tulang belakang, mulai dari kelainan degeneratif, trauma, infeksi, tumor, hingga kelainan kongenital.

“Radiologi juga membantu menentukan tingkat keparahan, perencanaan terapi, serta evaluasi dan monitoring pengobatan,” jelasnya.

Dia menyebutkan bahwa pemeriksaan melalui tiga metode, yakni X-Ray, CT Scan, maupun MRI memiliki keunggulan dan kelemahan tergantung kondisi pasien. MRI misalnya, digunakan untuk kelainan saraf dan degeneratif, CT-scan untuk tulang, serta rontgen atau X-ray untuk kasus trauma akibat kecelakaan yang membutuhkan penanganan cepat.