Pada 17 Mei 2025, dalam Kongres IV Tunas Indonesia Raya, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan kader muda dan mengucapkan satu kalimat yang mengguncang kesadaran sejarah bangsa “Mereka tidak ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri.”
Kalimat ini bukan sekadar retorika politik. Ia adalah gema dari masa lalu — dari para pendiri bangsa yang pernah bermimpi tentang kedaulatan, juga makna dan resonansi historis yang dalam.
Dari perspektif kritis dan multidimensi, kalimat itu langsung menggugah memori kolektif bangsa tentang masa penjajahan, ketika kekuatan asing — baik kolonialisme Belanda, Jepang, maupun kepentingan global pasca-kemerdekaan — berusaha mengendalikan Nusantara bukan hanya secara politik dan ekonomi, tetapi juga secara mental dan identitas.
Kalimat ini memiliki gaung yang mirip dengan semangat Bung Karno: “Berdikari — berdiri di atas kaki sendiri.”
Di era globalisasi dan ketergantungan utang luar negeri, teknologi asing, hingga kontrol atas sumber daya alam oleh korporasi multinasional, Pernyataan Presiden Prabowo bisa dilihat sebagai kritik terhadap struktur ekonomi-politik dunia yang menjadikan negara berkembang seperti Indonesia sebagai pasar dan ladang eksploitasi, bukan mitra sejajar.
Siapa “mereka”? Bisa ditafsirkan sebagai kekuatan luar yang diuntungkan dari ketergantungan Indonesia: lembaga donor, negara-negara adidaya, atau bahkan oligarki dalam negeri yang berafiliasi dengan kekuatan luar.
Pernyataan ini juga bisa dibaca sebagai alat konsolidasi politik nasional — mempertegas arah pemerintahan baru Prabowo untuk mengambil alih kendali atas sumber daya strategis dan industri kunci, ketahanan pangan dan energi, Modernisasi pertahanan, Hilirisasi sumber daya alam, hingga digitalisasi dengan teknologi lokal.
Karena disampaikan di depan kader muda Tidar, hal ini juga merupakan ajakan kepada generasi muda untuk tidak inferior, tidak tergantung, dan berani membangun negeri ini dengan kemampuan sendiri. Dalam konteks ini, kalimat tersebut menjadi semacam mantra kebangkitan nasional gaya baru.
Banyak pemimpin terdahulu berbicara soal kemandirian, namun tetap menggantungkan APBN pada utang luar negeri, membuka keran impor besar-besaran, dan membiarkan ketimpangan penguasaan lahan dan aset nasional.
Jika Prabowo benar-benar ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri, maka tantangannya adalah membalik arah kebijakan Kedaulatan pangan dan energi, Kontrol nasional atas kekayaan alam, Investasi besar pada teknologi, riset dan pendidikan juga kesepakatan Menghapus mental inlander dan inferioritas terhadap produk asing. Kalau tidak — ia hanya akan jadi gema dari masa lalu yang kembali dikubur oleh realitas global dan kompromi politik.