Mengungkap Teknologi Iron Dome: Pertahanan Udara Israel & Kelemahannya

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

SurabayaPostNews — Iron Dome, sistem pertahanan udara canggih yang digunakan oleh Israel, telah menjadi sorotan karena kemampuannya untuk mendeteksi dan mengintersep serangan roket dari udara. Khususnya serangan rudal Hammas.

Meskipun Iron Dome adalah sistem pertahanan udara yang efektif dan telah membantu melindungi wilayahnya dari serangan roket, irone dome juga memiliki kelemahan yang sudah diketahui oleh Hammas dan militer lainnnya.

Iron Dome dikembangkan pertama kali oleh perusahaan pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense Systems dibantu Amerika.

Sistem ini pertama kali diuji pada tahun 2011 dan segera menjadi pilar pertahanan udara Israel. Ini diimplementasikan sebagai respons terhadap serangan roket dan mortir yang diluncurkan oleh kelompok militan di Jalur Gaza dan Lebanon.

Sistem Iron Dome menggunakan sensor radar canggih yang ditempatkan di seluruh wilayah Israel untuk mendeteksi peluncuran roket. Radar ini mendeteksi peluncuran roket dan memantau lintasan mereka saat mereka melesat ke arah sasaran.

Proses deteksi dan pelacakan sangat cepat, memungkinkan sistem untuk merespons dalam hitungan detik.

Sistem Iron Dome tidak hanya mendeteksi roket, tetapi juga mengevaluasi tingkat ancaman yang dibawa oleh setiap roket. Itu dilakukan dengan mempertimbangkan apakah roket tersebut mengancam area berpenghuni atau fasilitas penting. Iron Dome hanya akan mengintersep roket jika dianggap sebagai ancaman serius.

Intersepsi dan Perlindungan

Ketika roket diidentifikasi sebagai ancaman, Iron Dome meluncurkan rudal interceptor yang dirancang khusus ke arah roket target.

Rudal interceptor ini memiliki kemampuan untuk mengenali dan mengintersep roket dalam penerbangan. Sistem ini memungkinkan untuk menghancurkan roket target sebelum mencapai area yang diinginkan.

Tantangan dan Perluasan

Meskipun Iron Dome telah berhasil mengurangi risiko serangan roket di Israel, tantangan terus muncul dan memiliki kelemahan yang sudah dideteksi oleh pihak Hammas maupun Hizbullah.

1. Biaya yang Tinggi:

Pembangunan dan pemeliharaan sistem Iron Dome memerlukan investasi finansial yang besar. Setiap peluncuran rudal interceptor yang menghancurkan roket target juga mahal. Ini memunculkan pertanyaan tentang ketersediaan anggaran jangka panjang untuk menjaga sistem ini beroperasi.

Dengan roket Hammas yang sederhana namun diluncurkan secara bersamaan sering kali membuat kerugian yang payah bagi Israel karena harus memuntahkan rudal interceptor yang bernilai miliaran.

2. Keterbatasan Jarak:

Iron Dome dirancang untuk melindungi area yang relatif kecil. Ini berarti bahwa jika serangan raket datang dari jarak yang sangat jauh atau dari luar jangkauan sistem, Iron Dome tidak efektif dalam melindungi wilayah tersebut.

3. Kecepatan dan Ketepatan Roket:

Meskipun Iron Dome memiliki kemampuan untuk mengintersep roket dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, serangan roket yang sangat cepat atau dengan manuver yang rumit dapat menjadi tantangan. Roket- roket seperti ini mungkin sulit dihadapi oleh sistem ini.

4. Kapasitas Terbatas:

Iron Dome memiliki kapasitas terbatas dalam hal seberapa banyak rudal interceptor yang dapat diluncurkan dalam waktu yang singkat. Ini berarti bahwa jika terdapat serangan raket massal, sistem ini mungkin terbatas dalam menanggapi semua ancaman dengan cepat.

5. Ketergantungan pada Teknologi:

Iron Dome adalah teknologi yang sangat bergantung pada sistem radar dan sensor. Jika sensor atau komponen kunci lainnya mengalami kerusakan atau gangguan, hal ini dapat mengurangi efektivitas sistem secara signifikan.

6. Perlindungan Terbatas terhadap Mortir dan Artileri:

Iron Dome secara khusus dirancang untuk menghadapi serangan roket. Serangan mortir dan artileri dengan peluncuran rendah mungkin lebih sulit untuk dideteksi dan dihadapi oleh sistem ini.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.